BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Pola hidup masyarakat saat ini harus
diakui sangat praktis, terlebih untuk pola makan. Masyarakat dimanjakan dengan
berbagai jenis makanan yang sangat cepat untuk disajikan dan bahkan instan.
Ditambah dengan jenis makanan dari mancanegara yang menurut generasi sekarang
disebut dengan modern. Fakta bahkan menunjukkan sebagian besar masyarakat
begitu bangga akan fast food atau junk food, tanpa mereka
ketahui, dari perilaku tersebut, penyakit degeneratif mengintai setiap saat.
Penyakit yang masuk dalam kelompok penyakit degeneratif antara lain diabetes
mellitus atau kencing manis, stroke, jantung koroner, kardiovaskular, obesitas,
penyakit lever, penyakit ginjal dan lainnya (Triawati, 2011).
Diabetes mellitus merupakan salah satu
masalah kesehatan yang berdampak pada produktivitas dan dapat menurunkan sumber
daya manusia. Penyakit ini tidak hanya berpengaruh secara individu, tetapi sistem
kesehatan Negara. Walaupun belum ada survei nasional, sejalan dengan perubahan gaya
hidup termasuk pola makan masyarakat Indonesia diperkirakan penderita
diabetes mellitus ini semakin meningkat, terutama pada kelompok umur dewasa keatas
pada seluruh status sosial ekonomi. Dampak negatif yang ditimbulkannya cukup besar antara lain komplikasi kronik pada penyakit jantung kronis, hipertensi, otak, sistemsaraf, hati, mata dan ginjal.
diabetes mellitus ini semakin meningkat, terutama pada kelompok umur dewasa keatas
pada seluruh status sosial ekonomi. Dampak negatif yang ditimbulkannya cukup besar antara lain komplikasi kronik pada penyakit jantung kronis, hipertensi, otak, sistemsaraf, hati, mata dan ginjal.
Hipertensi atau tekanan darah tinggi
adalah kondisi medis kronis dengan tekanan darah diateri meningkat. Peningkatan
ini menyebabkan jantung harus bekerja lebih keras dari biasanya untuk
mengedarkan darah melalui pembuluh darah. Hipertensi adalah faktor resiko utama
untuk penyakit serangan jantung dan
penyakit gagal ginjal kronik. Perubahan pola makan dan gaya hidup dapat
memperbaiki kontrol tekanan darah dan mengurangi resiko terkait komplikasi
kesehatan. Meskipun demikian, obat seringkali diperlukan pada sebagian orang
bila perubahan gaya hidup saja terbukti tidak efektif atau tidak cukup. Gagal Ginjal
adalah suatu penyakit dimana fungsi organ ginjal mengalami penurunan hingga
akhirnya tidak lagi mampu bekerja sama sekali dalam hal penyaringan pembuangan
elektrolit tubuh, menjaga keseimbangan cairan dan zat kimia tubuh seperti
sodium dan kalium didalam darah atau produksi urin.
B. Tujuan
Tujuan
Umum : Mampu melaksanakan
terapi diet pada pasien yang terkena diabetes mellitus tipe II dan gagal ginjal
dan hipertensi
Tujuan
Khusus
1.
Mampu membaca rekam medik pasien
2.
Mampu menginterprestasikan data subyektif
dan obyektif guna mengetahui diagnosa pasien.
3.
Mampu melakukan anamnesis gizi
4.
Mampu melakukan pengukuran antropometri
5.
Mampu menentukan status gizi pasien
6.
Mampu menghitung kebutuhan gizi pasien
7.
Mampu menyusun menu sesuai dengan
kebutuhan gizi pasien
8.
Mampu menghitung asupan makan pasien
9.
Mampu memberikan terapi diet pada
pasien.
10. Mampu
melakukan penyuluhan atau konsultasi gizi di ruang rawat inap pasien.
11. Mengevaluasi
perkembangan diet, memantau perkembangan antropometri, fisik, klinik dan
laboratorium
C. Manfaat
Bagi
pasien dan keluarga, yakni dapat mengetahui tentang penyakit yang diderita oleh
pasien dan mengetahui diet yang tepat untuk diberikan. Selain itu, memberikan motivasi bagi pasien
untuk menjalankan dietnya, serta kepada keluarga untuk memberikan dukungan
kepada pasien.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kajian Teoritis terhadap Kasus
1.
Diabetes
Mellitus
A.
Pengertian
Diabetes Mellitus (DM) adalah kumpulan
gejala yang timbul pada seseorang yang mengalami peningkatan kadar gula
(glukosa) darah akibat kekurangan hormon insulin. Penatalaksanaan diet
hendaknya disertai dengan latihan jasmani dan perubahan perilaku tentang makanan.
Diabetes mellitus (DM) yang dikenal dengan kencing manis atau kencing gula.
Diabetes mellitus adalah keadaan hiperglikemik kronik disertai berbagai
kelainan metabolik akibat gangguan hormonal. Kadar glukosa dalam darah kita
biasanya berfluktuasi, artinya naik turun sepanjang hari dan setiap saat,
tergantung pada makan yang masuk dan aktivitas fisik seseorang (Mistra,
2005). Data biokimia
dapat diketahui dengan melihat pada hasil laboratorium terbaru yang dibawa
maupun menanyakan hasil pemeriksaan laboratorium pasien. Data tersebut biasanya
berkaitan dengan jenis penyakit dan diagnosa dokter. Misalnya seperti pada
penderita diabetes mellitus adalah GDP (gula darah puasa), GDS (gula darah
sewaktu), dan gula darah 2 jam PP (Irianton,2012)
B.
Faktor Penyebab
-
Keturunan
Diabetes mellitus yang disebabkan oleh
factor keturunan yaitu apabila ibu, ayah, kakak, atau adik mengidap diabetes,
kemungkinan diri juga terkena diabetes lebih besar daripada bila yang menderita
diabetes adalah kakek, nenek, atau saudara ibu dan saudara ayah. Sekitar 50%
pasien diabetes tipe 2 mempunyai orang tua yang menderita diabetes, dan lebih sepertiga pasien diabetes mempunyai
saudara yang mengidap diabetes. Diabetes tipe 2 lebih banyak terkait dengan
faktor riwayat keluarga atau keturunan ketimbang diabetes tipe 1. Pada diabetes
tipe 1, kemungkinan orang terkena diabetes hanya 3-5% bila orang tua dan
saudaranya adalah pengidap diabetes.
-
Kurang berolahraga
Makin kurang gerak badan, makin mudah
seseorang terkena diabetes. Olah raga atau aktivitas fisik membantu kita untuk
mengontrol berat badan. Glukosa darah dibakar menjadi energi. Peredaran darah
lebih baik. Dan risiko terjadinya diabetes tipe 2 akan turun sampai 50%.
Keuntungan lain yang dapat diperoleh dari olah raga adalah bertambahnya massa
otot. Biasanya 70-90% glukosa darah diserap oleh otot. Pada orang tua atau yang
kurang gerak badan, massa otot berkurang sehingga pemakaian glukosa berkurang
dan gula darah pun akan meningkat.
-
Penyakit Lain
Beberapa penyakit tertentu dalam
prosesnya cenderung diikuti dengan tingginya kadar glukosa darah di kemudian hari.
Akibatnya, pasien juga bisa terkena diabetes. Penyakit-penyakit itu antara lain
: hipertensi, gout (pirai) atau radang sendi akibat kadar asam urat dalam darah
yang tinggi, penyakit jantung koroner, stroke, infeksi kulit yang berulang.
-
Usia
Risiko terkena diabetes akan meningkat
dengan bertambahnya usia, terutama diatas 40 tahun, serta mereka yang kurang
gerak badan, massa ototnya berkurang, dan berat badannya makin bertambah.
Namun, belakangan ini, dengan makin banyaknya anak yang mengalami obesitas,
angka kejadian diabetes tipe 2 pada anak dan remaja pun meningkat.
-
Stress
Stres yang hebat, seperti halnya
infeksi hebat, trauma hebat, operasi besar, atau penyakit berat lainnya,
menyebabkan hormone counter-insulin (yang kerjanya berlawanan dengan insulin)
lebih aktif. Akibatnya, glukosa darah pun akan meningkat. Diabetes sekunder ini
biasanya hilang bila pengaruh stressnya
teratasi. Diabetes ini kadang ditemukan secara kebetulan pada waktu si pasien
memeriksakan glukosa darahnya.
C.
Klasifikasi
Menurut Maulana (2009), diabetes
mellitus terdiri dari dua jenis, yaitu diabetes mellitus yang tergantung pada
insulin atau diabetes Tipe I, dan diabetes mellitus yang tidak tergantung pada
insulin atau Diabetes Tipe II.
-
Diabetes mellitus Tipe I
Diabetes mellitus tipe 1 dicirikan
dengan hilangnya sel penghasil insulin pada pulau-pulau langerhans pankreas
sehingga terjadi kekurangan insulin pada tubuh. Diabetes tipe ini dapat
diderita oleh anak-anak maupun orang dewasa. Sampai saat ini, diabetes tipe 1
tidak dapat dicegah. Diet dan olah raga tidak bisa menyembuhkan atau pun
mencegah diabetes tipe 1. Kebanyakan penderita diabetes tipe 1 memiliki
kesehatan dan berat badan yang baik saat penyakit ini dideritanya. Saat ini,
diabetes tipe 1 hanya dapat diobati dengan menggunakan insulin, dengan
pengawasan yang teliti terhadap tingkat glukosa darah melalui alat monitor
pengujian darah. Pengobatan dasar diabetes tipe 1, bahkan untuk tahap paling
awal sekalipun, adalah penggantian insulin. Tanpa insulin, ketosis dan diabetik ketoakidosis bisa menyebabkan koma bahkan bisa
mengakibatkan kematian. Penekanan juga diberikan pada penyesuaian gaya hidup
(diet dan olah raga).
-
Diabetes Mellitus Tipe II
Diabetes mellitus tipe 2 terjadi karena
kombinasi dari kecacatan dalam produksi insulin dan resistensi terhadap insulin
atau berkurangnya sensitifitas terhadap insulin (adanya defekasi respon
jaringan terhadap insulin) yang melibatkan reseptor insulin di membran sel.
Pada tahap awal abnormalitas yang paling utama adalah berkurangnya sensitivitas terhadap insulin,
yang ditandai dengan meningkatnya kadar insulin di dalam darah. Pada tahap ini,
hiperglikemia dapat diatasi dengan berbagai cara dan obat anti diabetes yang
dapat meningkatkan sensitifitas terhadap insulin atau mengurangi produksi
glukosa dari hepar, namun semakin parah penyakit, sekresi insulin pun semakin
berkurang, dan terapi dengan insulin kadang dibutuhkan. Diabetes tipe kedua ini
disebabkan oleh kurang sensitifnya jaringan tubuh terhadap insulin. Pankreas
tetap menghasilkan insulin, kadang kadarnya lebih tinggi dari normal. Tetapi
tubuh membentuk kekebalan terhadap efeknya, sehingga terjadi kekurangan insulin
relatif. Gejala pada tipe kedua ini terjadi secara perlahan-lahan. Dengan pola
hidup sehat, yaitu mengkonsumsi makanan bergizi seimbang dan olah raga secara
teratur biasanya penderita berangsur pulih. Penderita juga harus dapat
mempertahankan berat badan yang normal. Namun, bagi penderita stadium terakhir,
kemungkinan akan diberikan suntikan insulin.
D.
Gejala Diabetes
Mellitus
Beberapa keluhan utama dari diabetes
menurut Tandra (2008) adalah banyak kencing, rasa haus, barat badan turun, rasa
seprti flu, mata kabur, luka yang sukar sembuh, rasa baal dan kesemutan, gusi
merah dan bengkak kulit kering dan gatal, mudah kena infeksi, dan gatal pada
kemaluan.
-
Banyak kencing
Ginjal tidak dapat menyerap kembali
gula yang berlebihan di dalam darah, gula ini akan menarik air keluar dari
jaringan, sehingga selain kencing menjadi sering dan banyak, juga akan merasa
dehidrasi atau kekurangan cairan.
-
Rasa Haus
Untuk mengatasi dehidrasi, rasa haus
timbul dan akan banyak minum dan terus minum. Kesalahan yang sering didapatkan
adalah untuk mengatasi rasa haus, mencari
softdrink yang manis dan segar,
akibatnya gula darah semakin naik dan hal ini dapat menimbulkan komplikasi akut
yang membahayakan.
-
Berat Badan Turun
Sebagai kompensasi dari pada dehidrasi
dan harus banyak minum, mungkin mulai banyak makan. Memang pada mulanya berat
badan meningkat, akan tetapi lama kelamaan otot tidak mendapat cukup gula untuk tumbuh dan energi, maka
jaringan otot dan lemak harus dipecah untuk memenuhi kebutuhan energi, berat
badan menjadi turun, meskipun makannya banyak, keadaan ini makin diperburuk
oleh adanya komplikasi yang timbulnya belakangan.
-
Rasa Seperti Flu dan Lemah
Keluhan diabetes dapat menyerupai sakit
flu, rasa capek, lemah,dan nafsu makan menurun. Pada diabetes, gula bukan lagi
sumber energi, karena glukosa tidak dapat diangkut ke dalam sel untuk menjadi
energi.
-
Mata Kabur
Gula darah yang tinggi akan menarik keluar
cairan dari dalam lensa mata, sehingga lensa menjadi tipis, mata mengalami
kesulitan untuk memfokus dan penglihatan jadi kabur. Apabila bisa mengontrol
glukosa darah dengan baik, penglihatan jadi membaik karena lensa kembali
normal. Orang diabetes sering berganti-ganti ukuran kacamata, karena gula yang
naik turun tidak terkontrol dengan baik.
-
Luka Yang Sukar
Sembuh
Penyebab luka yang sukar sembuh adalah
: pertama akibat dari infeksi yang hebat, kuman atau jamur mudah tumbuh pada
kondisi gula darah yang tinggi; yang kedua adalah karena kerusakan dinding
pembuluh darah, aliran darah yang tidak lancar pada kapiler (pembuluh darah
kecil) menghambat penyembuhan luka; dan yang ketiga adalah kerusakan syaraf,
luka yang tidak terasa menyebabkan penderita diabetes tidak menaruh perhatian
pada luka dan membiarkannya semakin membusuk.
-
Rasa kesemutan
Kerusakan syaraf disebabkan oleh
glukosa yang tinggi merusak dinding pembuluh darah, yang akan menggangu nutrisi
pada syaraf. Karena yang rusak adalah saraf sensoris, keluhan paling sering
adalah rasa semutan atau tidak terasa, terutama pada tangan dan kaki.
Selanjutnya bisa timbul rasa nyeri pada anggota tubuh, betis, kaki, tangan, dan
lengan, bahkan bisa terasa seperti terbakar.
-
Kulit Kering dan Gatal
Kulit terasa kering, sering gatal dan
infeksi. Keluhan ini biasanya menjadi penyebab pasien datang memeriksakan diri
ke dokter, lalu pada pemeriksaan dokter kulit ditemukan adanya diabetes.
-
Mudah Kena Infeksi
Leukosit (sel darah merah) yang
biasanya dipakai untuk melawan infeksi, tidak dapat berfungsi dengan baik paeda
keadaan gula darah yang tinggi. Diabetes membuat lebih mudah terkena infeksi.
-
Gatal Pada Kemaluan
Infeksi jamur juga menyukai suasana
gula darah yang tinggi. Vagina mudah terkena infeksi jamur, mengeluarkan cairan
kental putih kekuningan, serta timbul rasa gatal.
2.
Hipertensi
A.
Pengertian
Hipertensi atau
tekanan darah tinggi adalah kondisi medis kronis dengan tekanan darah di arteri
meningkat. Peningkatan ini menyebabkan jantung harus bekerja lebih keras dari
biasanya untuk mengedarkan darah melalui pembuluh darah. Tekanan darah
melibatkan dua pengukuran, sistolik dan diastolik, tergantung apakah otot
jantung berkontraksi (sistolik) atau berelaksasi di antara denyut (diastolik).
Tekanan darah normal pada saat istirahat adalah dalam kisaran sistolik (bacaan
atas) 100–140 mmHg dan diastolik (bacaan bawah) 60–90 mmHg. Tekanan
darah tinggi terjadi bila terus-menerus berada pada 140/90 mmHg atau
lebih. Hipertensi adalah faktor resiko utama untuk stroke, serangan jantung,
gagal jantung dan penyebab penyakit ginjal kronik. Bahkan peningkatan sedang tekanan
darah arteri terkait dengan harapan hidup yang lebih pendek.
B.
Faktor
Penyebab
a.
Faktor
keturunan
Dari data statistik terbukti bahwa
seseorang akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi
jika orang tuanya adalah penderita hipertensi.
b.
Kebiasaan
hidup
Kebiasaan hidup yang sering
menyebabkan timbulnya hipertensi adalah :
-
Konsumsi garam yang tinggi
-
Kegemukan atau makan berlebihan
-
Stress
-
Merokok
-
Minum alkohol
-
Minum obat-obatan ( ephedrine,
prednison, epineprin )
-
Kontrasepsi oral
-
Kortikosteroid
Menurut Rokhaeni
(2001), manifestasi klinis beberapa pasien yang menderita hipertensi yaitu :
-
Mengeluh sakit kepala, pusing
-
Lemas, kelelahan
-
Sesak nafas
-
Gelisah
-
Mual, muntah
C.
Klasifikasi
Klasifikasi
hipertensi menurut bentuknya ada dua yaitu hipertensi sistolik dan hipertensi
diastolik. Pertama yaitu hipertensi sistolik adalah jantung berdenyut terlalu
kuat sehingga dapat meningkatkan angka sistolik. Tekanan sistolik berkaitan
dengan tingginya tekanan pada arteri bila jantung berkontraksi (denyut
jantung). Ini adalah tekanan maksimum dalam arteri pada suatu saat dan
tercermin dalam hasil pembacaan tekanan darah sebagai tekanan atas nilainya
lebih besar. Kedua yaitu hipertensi diastolik terjadi apabila pembuluh darah
kecil menyempit secara tidak normal, sehingga memperbesar tahanan terhadap
aliran darah yang melaluinya dan meningkatkan tekanan diastoliknya. Tekanan
darah diastolik berkaitan dengan tekanan dalam arteri apabila jantung berada dalam
keadaan relaksasi diantara dua denyutan.
Jenis-jenis Hipertensi :
a.
Hipertensi ringan: Jika tekanan
darah sistolik antara 140 – 159 mmHg dan atau tekanan diastolik antara 90 – 99
mmHg
b. Hipertensi
sedang: Jika tekanan darah sistolik antara 160 – 179 mmHg dan atau tekanan
diastolik antara 100 – 109 mmHg
c. Hipertensi
berat: Jika tekanan darah sistolik antara 180 – 209 mmHg dan atau tekanan
diastolik antara 110 – 120 mmHg
D.
Jenis
Diet dan Indikasi Pemberian
Macam diet dan indikasi pemberian :
-
Diet garam rendah I (200-400 mg Na)
Diet garam rendah I diberikan kepada pasien dengan
edema, asites, dan hipertensi berat. Pada pengolahan makanannya tidak
ditambahkan garam dapur. Dihindari bahan makanan yang tinggi kadar natriumnya.
-
Diet garam rendah II (600-800 mg Na)
Diet garam rendah II diberikan kepada pasien dengan
edema, asites, dan hipertensi tidak terlalu berat. Pemberian makanan sehari
sama dengan diet garam rendah I. pada pengolahan makanannya boleh menggunakan ½
sdt garam dapur (2 gr).
-
Diet garam rendah III (1000-1200 mg Na)
Diet garam rendah III diberikan kepada pasien dengan
edema dan hipertensi ringan. Pemberian makanan sehari sama dengan diet garam
rendah I. Pada pengolahan makanannya boleh menggunakan 1 sdt (4 gr) garam
dapur.
3.
Gagal
Ginjal
A.
Pengertian
Penyakit Gagal Ginjal adalah suatu
penyakit dimana fungsi organ ginjal mengalami penurunan hingga akhirnya tidak
lagi mampu bekerja sama sekali dalam hal penyaringan pembuangan elektrolit
tubuh, menjaga keseimbangan cairan dan zat kimia tubuh seperti sodium dan
kalium didalam darah atau produksi urine. Penyakit gagal ginjal ini dapat
menyerang siapa saja yang menderita penyakit serius atau terluka dimana hal itu
berdampak langsung pada ginjal itu sendiri. Penyakit gagal ginjal lebih sering
dialami mereka yang berusia dewasa, terlebih pada kaum lanjut usia. Terjadinya
gagal ginjal disebabkan oleh beberapa penyakit serius yang didedrita oleh tubuh
yang mana secara perlahan-lahan berdampak pada kerusakan organ ginjal.
Adapun tanda dan gejala terjadinya
gagal ginjal yang dialami penderita secara akut antara lain bengkak mata, kaki,
nyeri pinggang hebat, kencing sakit, demam, sering kencing. Sedangkan tanda dan
gejala yang mungkin timbul oleh adanya gagal ginjal kronik antara lain adalah
lemas, tidak ada tenaga, nafsu makan, mual, muntah, bengkak, kencing berkurang,
gatal, sesak napas, anemia. Kelainan urin yaitu protein, Eritrosit, Leukosit.
Kelainan hasil pemeriksaan Laboratorium lain yaitu kreatinin darah naik,
hemoglobin turun. Penanganan serta obat untuk gagal ginjal tergantung dari
penyebab terjadinya kegagalan fungsi ginjal itu sendiri. Pada intinya, Tujuan
pengobatan adalah untuk mengendalikan gejala, meminimalkan komplikasi dan
memperlambat perkembangan penyakit. Dalam beberapa kasus serius, Pasien akan
disarankan atau diberikan tindakan pencucian darah Haemodialisa (dialysis).
Kemungkinan lainnya adalah dengan tindakan pencangkokan ginjal atau
transplantasi ginjal
B.
Faktor
Penyebab
Penyebab dari gagal ginjal akut
adalah hipoperfusi pada bagian prerenal; kerusakan glomerular, kerusukan
tubular, dan kenaikan vascular pada bagian renal; tumor primer, tumor sekunder,
bekuan darah, obstuksi kandung kemih, dan infestasi (cacing) pada bagian
postrenal.
2.2
Pengkajian
Gizi/NCP
2.2.1
Pengertian
Pelayanan Gizi Rawat Inap
Pelayanan
gizi rawat inap merupakan pelayanan gizi yang dimulai dari proses pengkajian
gizi, diagnosis gizi, intervensi gizi meliputi perencanaan, penyediaan makanan,
penyuluhan/edukasi, dan konseling gizi, serta monitoring dan evaluasi gizi.
Tujuannya memberikan pelayanan gizi kepada pasien rawat inap agar memperoleh
asupan makanan yang sesuai kondisi kesehatannya dalam upaya mempercepat proses
penyembuhan, mempertahankan dan meningkatkan status gizi (Depkes, 2013).
2.2.2
Mekanisme
Kegiatan Pelayanan Gizi Rawat Inap
Mekanisme
pelayanan gizi rawat inap adalah sebagai berikut:
A.
Skrining
gizi
Tahapan pelayanan gizi
rawat inap diawali dengan skrining/penapisan gizi oleh perawat ruangan dan
penetapan order diet awal (preskripsi diet awal) oleh dokter. Skrining gizi bertujuan
untuk mengidentifikasi pasien/klien yang berisiko, tidak berisiko malnutrisi
atau kondisi khusus. Kondisi khusus yang dimaksud adalah pasien dengan kelainan
metabolik; hemodialisis; anak; geriatrik; kanker dengan kemoterapi/radiasi;
luka bakar ; pasien dengan imunitas menurun; sakit kritis dan sebagainya.
Pasien sakit kritis atau kasus sulit yang berisiko gangguan gizi berat akan
lebih baik bila ditangani secara tim. Bila rumah sakit mempunyai Tim Asuhan
Gizi/ Nutrition Suport Tim (NST)/Tim Terapi Gizi (TTG)/Tim Dukungan
Gizi/Panitia Asuhan Gizi, maka berdasarkan pertimbangan DPJP pasien tersebut
dirujuk kepada tim (Depkes, 2013).
B.
Proses
Asuhan Gizi Terstandar
Proses Asuhan gizi
Terstandar dilakukan pada pasien yang berisiko kurang gizi, sudah mengalami
kurang gizi dan atau kondisi khusus dengan penyakit tertentu, adapun
langkah-langkah PAGT antara lain yaitu (Depkes, 2013) :
1.
Assesment/Pengkajian
gizi
Assesmen
gizi dikelompokkan dalam 5 kategori yaitu 1) Anamnesis riwayat gizi; 2) Data
Biokimia, tes medis dan prosedur (termasuk data laboratorium); 3) Pengukuran
antropometri; 4) Pemeriksaan fisik klinis; 5) Riwayat personal.
-
Anamnesis riwayat gizi
Anamnesis riwayat gizi adalah data
meliputi asupan makanan termasuk komposisi, pola makan, diet saat ini dan data
lain yang terkait. Selain itu diperlukan data kepedulian pasien terhadap gizi
dan kesehatan, aktivitas fisik dan olahraga dan ketersediaan makanan di
lingkungan klien.
Gambaran asupan makanan dapat digali
melalui anamnesis kualitatif dan kuantitatif. Anamnesis riwayat gizi secara
kualitatif dilakukan untuk memperoleh gambaran kebiasaan makan/pola makan
sehari berdasarkan frekuensi penggunaan bahan makanan. Anamnesis secara
kuantitatif dilakukan untuk mendapatkan gambaran asupan zat gizi sehari melalui
’’recall’ makanan 24 jam dengan alat bantu ’food model’. Kemudian dilakukan
analisis zat gizi yang merujuk kepada daftar makanan penukar, atau daftar komposisi
zat gizi makanan.
-
Biokimia
Data biokimia meliputi hasil pemeriksaan
laboratorium, pemeriksaan yang berkaitan dengan status gizi, status metabolik
dan gambaran fungsi organ yang berpengaruh terhadap timbulnya masalah gizi.
Pengambilan kesimpulan dari data laboratorium terkait masalah gizi harus
selaras dengan data assesmen gizi lainnya seperti riwayat gizi yang lengkap,
termasuk penggunaan suplemen, pemeriksaan fisik dan sebagainya.
Disamping itu proses penyakit, tindakan,
pengobatan, prosedur dan status hidrasi (cairan) dapat mempengaruhi perubahan
kimiawi darah dan urin, sehingga hal ini perlu menjadi pertimbangan.
-
Antropometri
Antropometri
merupakan pengukuran fisik pada individu. Antropometri dapat dilakukan dengan
berbagai cara, antara lain pengukuran tinggi badan (TB); berat badan (BB). Pada
kondisi tinggi badan tidak dapat diukur dapat digunakan Panjang badan, Tinggi
Lutut (TL), rentang lengan atau separuh rentang lengan. Pengukuran lain seperti
Lingkar Lengan Atas (LiLA), Tebal lipatan kulit (skinfold), Lingkar kepala,
Lingkar dada, lingkar pinggang dan lingkar pinggul dapat dilakukan sesuai
kebutuhan.
Penilaian
status gizi dilakukan dengan membandingkan beberapa ukuran tersebut diatas
misalnya Indeks Massa Tubuh (IMT) yaitu ratio BB terhadap TB.
Parameter
antropometri yang penting untuk melakukan evaluasi status gizi pada bayi, anak
dan remaja adalah Pertumbuhan. Pertumbuhan ini dapat digambarkan melalui
pengukuran antropometri seperti berat badan, panjang atau tinggi badan, lingkar
kepala dan beberapa pengukuran lainnya. Hasil pengukuran ini kemudian
dibandingkan dengan standar.
Pemeriksaan
fisik yang paling sederhana untuk melihat status gizi pada pasien rawat inap
adalah BB. Pasien sebaiknya ditimbang dengan menggunakan timbangan yang
akurat/terkalibrasi dengan baik. Berat badan akurat sebaiknya dibandingkan
dengan BB ideal pasien atau BB pasien sebelum sakit. Pengukuran BB sebaiknya
mempertimbangkan hal-hal diantaranya kondisi kegemukan dan edema. Kegemukan
dapat dideteksi dengan perhitungan IMT. Namun, pada pengukuran ini terkadang
terjadi kesalahan yang disebabkan oleh adanya edema.
BB
pasien sebaiknya dicatat pada saat pasien masuk dirawat dan dilakukan
pengukuran BB secara periodik selama pasien dirawat minimal setiap 7 hari.
-
Pemeriksaan Fisik/Klinis
Pemeriksaan fisik dilakukan untuk
mendeteksi adanya kelainan klinis yang berkaitan dengan gangguan gizi atau
dapat menimbulkan masalah gizi. Pemeriksaan fisik terkait gizi merupakan
kombinasi dari, tanda tanda vital dan antropometri yang dapat dikumpulkan dari
catatan medik pasien serta wawancara. Contoh beberapa data pemeriksaan fisik
terkait gizi antara lain edema, asites, kondisi gigi geligi, massa otot yang
hilang, lemak tubuh yang menumpuk, dll.
-
Riwayat Personal
Data riwayat personal meliputi 4 area
yaitu riwayat obat-obatan atau suplemen yang sering dikonsumsi; sosial budaya;
riwayat penyakit; data umum pasien.
a. Riwayat
obat-obatan yang digunakan dan suplemen yang dikonsumsi.
b. Sosial
Budaya
Status sosial ekonomi, budaya,
kepercayaan/agama, situasi rumah, dukungan pelayanan kesehatan dan sosial serta
hubungan sosial.
c. Riwayat
Penyakit
Keluhan utama yang terkait dengan
masalah gizi, riwayat penyakit dulu dan sekarang, riwayat pembedahan, penyakit
kronik atau resiko komplikasi, riwayat penyakit keluarga, status kesehatan
mental/emosi serta kemampuan kognitif seperti pada pasien stroke.
d. Data
umum pasien antara lain umur, pekerjaan, dan tingkat pendidikan.
2.
Diagnosis
Gizi
Pada
langkah ini dicari pola dan hubungan antar data yang terkumpul dan kemungkinan
penyebabnya. Kemudian memilah masalah gizi yang spesifik dan menyatakan masalah
gizi secara singkat dan jelas menggunakan terminologi yang ada. Penulisan
diagnosa gizi terstruktur dengan konsep PES atau Problem Etiologi dan Signs/
Symptoms. Diagnosis gizi dikelompokkan menjadi tiga domain yaitu :
-
Domain Asupan adalah masalah aktual yang
berhubungan dengan asupan energi, zat gizi,cairan, substansi bioaktif dari
makanan baik yang melalui oral maupun parenteral dan enteral.
-
Domain Klinis adalah masalah gizi yang
berkaitan dengan kondisi medis atau fisik/fungsi organ.
-
Domain Perilaku/lingkungan adalah
masalah gizi yang berkaitan dengan pengetahuan, perilaku/kepercayaan,
lingkungan fisik dan akses dan keamanan makanan (Depkes, 2013).
3.
Intervensi
Gizi
Terdapat
dua komponen intervensi gizi yaitu perencanaan intervensi dan implementasi.
a. Perencanaan
Intervensi
Intervensi
gizi dibuat merujuk pada diagnosis gizi yang ditegakkan. Tetapkan tujuan dan
prioritas intervensi berdasarkan masalah gizinya (Problem), rancang strategi
intervensi berdasarkan penyebab masalahnya (Etiologi) atau bila penyebab tidak
dapat diintervensi maka strategi intervensi ditujukan untuk mengurangi
Gejala/Tanda (Sign & Symptom).
Tentukan
pula jadwal dan frekuensi asuhan. Output dari intervensi ini adalah tujuan yang
terukur, preskripsi diet dan strategi pelaksanaan (implementasi). Perencanaan
intervensi meliputi :
-
Penetapan tujuan intervensi
Penetapan tujuan harus dapat diukur,
dicapai dan ditentukan waktunya.
-
Preskripsi diet
Preskripsi diet secara singkat
menggambarkan rekomendasi mengenai kebutuhan energi dan zat gizi individual,
jenis diet, bentuk makanan, komposisi zat gizi, frekuensi makan.
b. Perhitungan
kebutuhan gizi
Penentuan
kebutuhan zat gizi yang diberikan kepada pasien/klien atas dasar diagnosis
gizi, kondisi pasien dan jenis penyakitnya.
c. Jenis
Diet
Pada umumnya pasien
masuk ke ruang rawat sudah dibuat permintaan makanan berdasarkan pesanan/order
diet awal dari dokter jaga/ penanggung jawab pelayanan (DPJP). Dietisien
bersama tim atau secara mandiri akan menetapkan jenis diet berdasarkan
diagnosis gizi. Bila jenis diet yang ditentukan sesuai dengan diet order maka
diet tersebut diteruskan dengan dilengkapi dengan rancangan diet. Bila diet
tidak sesuai akan dilakukan usulan perubahan jenis diet dengan mendiskusikannya
terlebih dahulu bersama (DPJP).
d. Modifikasi
diet
Modifikasi diet
merupakan pengubahan dari makanan biasa (normal). Pengubahan dapat berupa
perubahan dalam konsistensi; meningkatkan/menurunan nilai energi;
menambah/mengurangi jenis bahan makanan atau zat gizi yang dikonsumsi;
membatasi jenis atau kandungan makanan tertentu; menyesuaikan komposisi zat
gizi (protein, lemak, KH, cairan dan zat gizi lain); mengubah jumlah ,frekuensi
makan dan rute makanan. Makanan di RS umumnya berbentuk makanan biasa, lunak,
saring dan cair.
e. Jadwal
Pemberian Diet
Jadwal
pemberian diet/makanan dituliskan sesuai dengan pola makan.
f. Jalur
makanan
Jalur
makanan yang diberikan dapat melalui oral dan enteral atau parenteral
g. Implementasi
Intervensi
Implementasi
adalah bagian kegiatan intervensi gizi dimana dietisien melaksanakan dan
mengkomunikasikan rencana asuhan kepada pasien dan tenaga kesehatan atau tenaga
lain yang terkait. Suatu intervensi gizi harus menggambarkan dengan jelas : “
apa, dimana, kapan, dan bagaimana” intervensi itu dilakukan. Kegiatan ini juga
termasuk pengumpulan data kembali, dimana data tersebut dapat menunjukkan
respons pasien dan perlu atau tidaknya modifikasi intervensi gizi. Untuk
kepentingan dokumentasi dan persepsi yang sama, intervensi dikelompokkan
menjadi 4 domain yaitu pemberian makanan atau zat gizi; edukasi gizi, konseling
gizi dan koordinasi pelayanan gizi. Setiap kelompok mempunyai terminologinya
masing masing (Depkes, 2013).
4.
Monitoring
dan Evaluasi Gizi
Kegiatan
monitoring dan evaluasi gizi dilakukan untuk mengetahui respon pasien/klien
terhadap intervensi dan tingkat keberhasilannya. Tiga langkah kegiatan
monitoring dan evaluasi gizi, yaitu :
1. Monitor
perkembangan yaitu kegiatan mengamati perkembangan kondisi pasien/klien yang
bertujuan untuk melihat hasil yang terjadi sesuai yang diharapkan oleh klien
maupun tim. Kegiatan yang berkaitan dengan monitor perkembangan antara lain :
-
Mengecek pemahaman dan ketaatan diet
pasien/klien
-
Mengecek asupan makan pasien/klien
-
Menentukan apakah intervensi
dilaksanakan sesuai dengan rencana/preskripsi Diet.
-
Menentukan apakah status gizi
pasien/klien tetap atau berubah
-
Mengidentifikasi hasil lain baik yang
positif maupun negatif
-
Mengumpulkan informasi yang menunjukkan
alasan tidak adanya perkembangan dari kondisi pasien/klien.
2. Mengukur
hasil. Kegiatan ini adalah mengukur perkembangan/perubahan yang terjadi sebagai
respon terhadap intervensi gizi. Parameter yang harus diukur berdasarkan tanda
dan gejala dari diagnosis gizi.
3. Evaluasi
hasil
Berdasarkan ketiga tahapan kegiatan di
atas akan didapatkan 4 jenis hasil, yaitu :
-
Dampak perilaku dan lingkungan terkait
gizi yaitu tingkat pemahaman, perilaku, akses, dan kemampuan yang mungkin
mempunyai pengaruh pada asupan makanan dan zat gizi.
-
Dampak asupan makanan dan zat gizi
merupakan asupan makanan dan atau zat gizi dari berbagai sumber, misalnya
makanan, minuman, suplemen, dan melalui rute enteral maupun parenteral.
2.3
Teknik
Komunikasi dan Konseling Gizi
A.
Pengertian
Komunikasi
Komunikasi adalah "suatu proses
dalam mana seseorang atau beberapa orang, kelompok,
organisasi,
dan masyarakat
menciptakan, dan menggunakan informasi
agar terhubung dengan lingkungan dan orang lain".
Pada umumnya, komunikasi dilakukan secara lisan
atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Apabila tidak ada bahasa
verbal
yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan
menggunakan gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum,
menggelengkan kepala, mengangkat bahu. Cara seperti ini disebut komunikasi
dengan bahasa nonverbal.
B.
Komponen
Komunikasi
Komponen
komunikasi adalah hal-hal yang harus ada agar komunikasi bisa berlangsung
dengan baik. Menurut Laswell
komponen-komponen komunikasi adalah:
·
Pengirim atau komunikator (sender) adalah pihak yang mengirimkan
pesan kepada pihak lain.
·
Pesan (message) adalah isi atau maksud yang akan disampaikan oleh satu
pihak kepada pihak lain.
·
Saluran (channel) adalah media dimana pesan disampaikan kepada komunikan.
dalam komunikasi antar-pribadi (tatap muka) saluran dapat berupa udara yang
mengalirkan getaran nada/suara.
·
Penerima atau komunikate (receiver) adalah pihak yang menerima
pesan dari pihak lain
·
Umpan balik (feedback) adalah tanggapan dari penerimaan pesan atas isi pesan
yang disampaikannya.
·
Aturan yang disepakati para pelaku
komunikasi tentang bagaimana komunikasi itu akan dijalankan
("Protokol").
C.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi Komunikasi
Faktor-
factor yang mempengaruhi komunikasi
diantaranya :
- Latar belakang budaya. Interpretasi suatu pesan akan terbentuk dari pola pikir seseorang melalui kebiasaannya, sehingga semakin sama latar belakang budaya antara komunikator dengan komunikan maka komunikasi semakin efektif.
- Ikatan kelompok atau group Nilai-nilai yang dianut oleh suatu kelompok sangat mempengaruhi cara mengamati pesan.
- Harapan Harapan mempengaruhi penerimaan pesan sehingga dapat menerima pesan sesuai dengan yang diharapkan.
- Pendidikan Semakin tinggi pendidikan akan semakin kompleks sudut pandang dalam menyikapi isi pesan yang disampaikan.
- Situasi Perilaku manusia dipengaruhi oleh lingkungan/situasi.
D.
Pengertian
Konseling Gizi
Konseling Gizi
adalah serangkaian kegiatan sebagai proses komunikasi dua arah antara Konselor
dan Klien/Pasien untuk menanamkan dan meningkatkan pengertian, sikap dan
perillaku sehingga membantu klien/pasien mengenali dan mengatasi masalah gizi
yang sedang di hadapi.
E.
Tujuan
dan Manfaat Konseling Gizi
Tujuan umum dari
konsultasi gizi yaitu untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran,
kemampuan masyarakat untuk hidup sehat dan berperan serta dalam upaya kesehatan
dengan mengkonsumsi makanan yang sehat. Adapula tujuan khusus menurut (Yuliana,
2005) yaitu meningkatkan keadaan gizi masyarakat untuk mencapai gizi seimbang
dengan menurunkan jumlah penduduk yang mengalami gizi kurang dan gizi lebih dan
meningkatkan penganekaragaman dalam penyelenggaraan makanan dalam upaya
peningkatan status gizi. Sedangkan manfaat dari konsultasi gizi yaitu sebagai
pemberian bantuan seseorang kepada orang lain dalam membuat suatu keputusan
atau memecahkan suatu masalah melalui pemahaman terhadap fakta-fakta, harapan,
dan kebutuhan, dan prasaan-prasaan. Sasaran program konsultasi gizi yang biasa
dilakukan di posyandu adalah sasaran kelompok yang rentan gizi di usia
produktif yaitu balita. Bayi, ibu hamil, anak usia sekolah, dan lansia.
BAB
III
HASIL
DAN PEMBAHASAN
1.
HASIL
A.
Gambaran
Umum Pasien
Nama : Ny. R
Usia : 34
Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Status : Menikah
Pekerjaaan : Swasta
Berat Badan : 56 kg
Tinggi Badan : 155 cm
Ruang : Mamplam
2
Tanggal Masuk Rumah
Sakit : 7 Maret 2014
Diagnosa Medis : Diabetes Mellitus tipe
II + Gagal Ginjal + Hipertensi
B.
Proses
Asuhan Gizi Terstandar
I.
ASSESMENT
ATAU PENGKAJIAN DATA
a)
Riwayat
Gizi
|
1. Asupan Makanan
|
-
Pola makan/ snack : Pasien makan 3x sehari dengan porsi sedang kebiasaan ngemil pasien 2x sehari.
-
Jenis Makanan dan Kesukaan Makanan:Pasien menyukai nasi, ikan
tongkol, tempe, dan jenis
sayuran seperti wortel dan kentang, makanan gorengan, makanan berlemak.Pasien tidak menyukai
semur ayam dan makanan yang pedas.
-
|
b)
Hasil
recall
Tanggal 6 Maret 2014
|
Asupan
|
Kebutuhan
|
% Asupan
|
|
Energi : 952,9 kkal
|
Energi: 1900 kkal
|
50%
|
|
Protein : 10,4 gr
|
Protein : 29,7 gr
|
34%
|
|
Lemak : 8,9 gr
|
Lemak : 32,7
|
28%
|
|
KH : 47,1 gr
|
KH : 326,8
|
14%
|
Tanggal
7 Maret 2014
|
Asupan
|
Kebutuhan
|
% Asupan
|
|
Energi : 950 kkal
|
Energi: 1900 kkal
|
50%
|
|
Protein : 46,2 gr
|
Protein : 29,7 gr
|
159%
|
|
Lemak : 20,3 gr
|
Lemak : 32,7
|
38%
|
|
KH : 142,5 gr
|
KH : 326,8
|
43%
|
Tanggal
8 Maret 2014
|
Asupan
|
Kebutuhan
|
% Asupan
|
|
Energi : 1112 kkal
|
Energi: 1900 kkal
|
58%
|
|
Protein : 50 gr
|
Protein : 29,7 gr
|
168%
|
|
Lemak : 28,3 gr
|
Lemak : 32,7
|
54%
|
|
KH : 168 gr
|
KH : 326,8
|
51%
|
c)
Data
Biokimia
|
Hasil
lab
|
Tanggal
Pemeriksaan
|
Nilai
Normal
|
Keterangan
|
||
|
7/3/2014
|
8/4/2014
|
9/3/2014
|
|||
|
HB
|
9,4
|
11,4
|
9,4
|
12,0–14,0 gr/dl
|
Rendah
|
|
Hematokrit
|
28
|
32
|
29
|
40-48 %
|
Rendah
|
|
Leukosit
|
-
|
7,5
|
7,5
|
5 – 10 ribu/ml
|
Normal
|
|
Trombosit
|
-
|
128
|
128
|
150-400 ribu/ml
|
Rendah
|
|
ureum darah
|
106
|
-
|
-
|
10-50 mg/dl
|
Tinggi
|
|
Kalium
|
5,9
|
-
|
-
|
3,5-5 mmol/l
|
Tinggi
|
|
GDS
|
258
|
-
|
-
|
< 145 mg/dl
|
Tinggi
|
d)
Data
Antropometri
Tinggi
Badan = 155 cm
Berat
Badan = 56 kg
IMT =
=
=
23,3 ( Gizi baik )
e)
Fisik
dan Klinis
|
Pemeriksaan
fisik
|
Hasil
|
|
Kesehatan gigi dan mulut
|
Gigi pasien masih lengkap, pasien tidak mengalami kesulitan mengunyah dan
tidak mengalami kesulitan menelan.
|
|
Penampilan fisik secara umum
|
Pasien terlihat
pucat, sesak nafas, dan nyeri dikaki, dan mual, sering merasa haus.
|
|
Klinis
|
||||||
|
Hasil lab
|
Tanggal Pemeriksaan
|
Nilai Normal
|
Keterangan
|
|||
|
7/3/2014
|
8/3/2014
|
9/3/2014
|
10/3/2014
|
|||
|
TD
|
180/100
|
160/90
|
130/80
|
160/90
|
120/80 mmHg
|
Tinggi
|
|
Pernafasan
|
24
|
20
|
20
|
20
|
20-24
x/menit
|
Normal
|
|
Nadi
|
96
|
80
|
96
|
80
|
60-100
x/menit
|
Normal
|
|
Suhu
|
36,8
|
36,8
|
36,5
|
36,8
|
36-37 C
|
Normal
|
f)
Riwayat personal
|
Riwayat Personal
|
Pasien tinggal bersama suami
dan ke tiga anaknya.
|
|
Keluhan
Utama
|
Pasien tidak nafsu makan
sejak ± seminggu yang lalu.
Pasien merasa sesak nafas dan
nyeri dikaki.
|
|
Riwayat
penyakit
|
Riwayat penyakit dahulu :- Diabetes Mellitus ≤ 17 tahun lalu . Kadar
Gula Darah tertinggi 600
mg/dl
- Hipertensi sejak 6 bulan lalu
|
|
Riwayat penyakit sekarang :- Diabetes
Mellitus
-Hipertensi
-Gagal Ginjal
|
|
|
Riwayat penyakit keluarga
|
Tidak ada riwayat penyakit keluarga
|
|
Sosial budaya
|
Suku : Aceh
Tinggal : ulhe
kareng
Agama : Islam
|
II.
DIAGNOSA GIZI
Domain Asupan
|
Problem
|
Etiologi
|
Sypthom
|
|
NI 2.1 asupan
oral tidak adekuat
|
Berkaitan dengan penurunan
nafsu makan
|
Ditandai dengan hasil recall energi :52,8%, lemak :36%, karbohidrat : 36%
|
Domain
Klinis
|
Problem
|
Etiologi
|
Sypthom
|
|
NC 2.2
Perubahan Nilai lab terkait gizi
|
-
Berkaitan
dengan
perubahan fungsi endokrin
-
Berkaitan
dengan menurunnya fungsi ginjal
-
Berkaitan
dengan gangguan produksi hormone eritropoeitin.
|
-
Ditandai dengan kadar gula darah sewaktu 258 mg/dl
-
Ditandai
dengan ureum 106 mg/dl
-
Ditandai
dengan hemoglobin dalam darah 9,4 gr/dl
|
Domain
Perilaku
|
Problem
|
Etiologi
|
Sypthom
|
|
NB.1.3 kekeliruan
Pola makan
|
Berkaitan dengan
kurangnya pengetahuan pasien mengenai zat gizi dalam makanan
|
Pasien sering mengkonsumsi
makanan yang bersantan dan gorengan
|
III.
INTERVENSI
GIZI
A.
Rencana
1.
Tujuan
Diet
-
Mempertahankan berat badan agar tetap
normal
-
Memberikan makanan secukupnya tanpa
memberatkan kerja ginjal
-
Menurunkan kadar glukosa darah agar
berada dalam keadaan normal
-
Menurunkan tekanan darah agar berada
dalam keadaan normal.
-
Memberikan edukasi pemahaman pentingnya
diet pasien untuk penyembuhan.
2.
Syarat
Diet
-
Energi cukup untuk mempertahankan berat
badan normal dengan kebutuhan energi sebanyak 1423 kkal.
-
Kebutuhan protein rendah yaitu 6,2 %
dari kebutuhan energi sebanyak 29,7 gr.
-
Kebutuhan lemak sedang yaitu 25 % dari
kebutuhan energi sebanyak 52,7 gr.
-
Kebutuhan karbohidrat adalah sisa dari
kebutuhan energi total yaitu 68,8%. Pemberian karbohidrat sebanyak 326,8 gr.
-
Penggunaan gula murni dan garam dalam
minuman dan makanan dihindari. Diperbolehkan mengkonsumsi gula murni sampai 5%
dari kebutuhan energi total. Diperbolehkan mengkonsumsi garam sampai 1000-1200
mg Na (1 sdt /4 gr)
3.
Jenis
diet
: Diet Diabetes Mellitus 1900 kkal,
Rendah Protein 30 gr, Rendah Garam III.
4.
Prinsip
diet
: Rendah karbohidrat , garam1000-1200 mg Na, dan protein 30 gr.
5.
Bentuk
makanan : makanan lunak
6.
Metode
Pemberian melalui oral
7.
Frekuensi
pemberian : 3 x makanan utama dan 2x makanan selingan.
8.
Perhitungan
kebutuhan gizi
BBI = (TB-100 ) – 10%
= (155-100 ) – 10%
= 49,5 kg
BMR =
655 + (9,6 x BBI) + ( 1,8 x TB) – (4,7 x U)
= 655 + (9,6 x 49,5 ) + ( 1,8 x 155)
– (4,7 x 34)
= 1249,4
Faktor stress =
= 249,8
Aktivitas
=224,892
SDA =
= 172,41
Energi = BMR + Faktor Stres +
Aktivitas + SDA
= 1249,4 + 249,8 + 224,892 + 172,41
= 1900 KKal
Kebutuhan
KH, Lemak, Protein
Protein = 0,6 kg/bb = 0,6
49,5 = 29,7
=29,7
4
=
=
0,062
100 = 6,2 %
=
=
= 29,7 gr
Karbohidrat =
=
=
326,8 gr
Lemak =
=
= 52,7
gr
9.
Rencana
parameter yang diukur
-
Asupan makanan : Habis atau tersisa
-
Antropometri : Berat badan, tinggi badan
-
Fisik : wajah, mata, keadaan tubuh
-
Klinis : Tekanan Darah, suhu, nadi,
pernafasan.
-
Laboratorium : hemoglobin,
hematokrit, trombosit, ureum darah, kalium, kadar gula darah sewaktu
10. Rencana Konsultasi Gizi
Memberikan konsultasi sesuai dengan
kondisi pasien, konsultasi yang diberikan tentang makanan bagi penderita
diabetes mellitus, gagal ginjal, dan hipertensi dengan memberikan penjelasan
tentang penyakit tersebut.
B.
Tindakan
atau Pelaksanaan
1.
Diet dilaksanakan pada saat pasien berada
di rumah sakit.
2.
Diet yang diberikan dari rumah sakit pada
pasien adalah diet Diet Diabetes Mellitus 1900 kkal, Rendah
Protein 30 gr, Rendah Garam III. Metode pemberian secara
oral.
3.
Metode pemberian diet adalah 3x makan
utama dan 2x makanan selingan.
IV. MONITORING DAN
EVALUASI
1.
Asupan makanan hari pertama pengamatan
tanggal 8 maret 2014 pasien tidak menghabiskan makanannya dikarenakan tidak
nafsu makan , kemudian pada hari ke 2 dan ke 3 dipantau pasien sudah makan
lebih banyak dari kemarin Tidak ada perubahan diet pada pasien. Bentuk makanan
tetap bentuk makanan lunak , dengan Metode Pemberian melalui oral , Frekuensi
pemberian yaitu 3x makanan utama dan 2x selingan. Nafsu makan pasien mulai
membaik, dilihat dari adanya peningkatan asupan recall pasien dari hari ke hari.
2.
Antropometri pasien dilihat berat badan
pada tanggal 8 maret 2014 ketika masuk rumah sakit yaitu 56 kg, pada tanggal 10
maret 2014 turun menjadi 55 kg. Tinggi badan pasien pada ketiga hari pengamatan
tetap terlihat sama yaitu 155 cm. Hal ini terlihat baik karena tidak adanya penurunan
berat badan yang drastis selama dirumah sakit.
3.
Fisik pasien pengamatan pada tanggal 7
maret 2014 pasien terlihat pucat, sesak nafas, nyeri dikaki. Pada hari ke 2
tidak ada perubahan pada pasien, terlihat kondisi sama dengan hari kemarin.
Pada hari ke 3 pasien mulai membaik, sesak nafas berkurang, nyeri dikaki juga
semakin berkurang.
4.
Hasil klinis pasien pada tanggal 7 maret
2014 , tekanan darah pasien 180/100 mmHg tinggi. Pada tanggal 8 maret 2014 tekanan darah
pasien 160/90 mmHg tinggi. Pada tanggal 10 april 2014 tekanan darah tetap sama
yaitu 160/90 mmHg.
5.
Dari hasil data biokimia pada tanggal 7
maret 2014 sampai tanggal 9 maret 2014, hemoglobin rendah, hematokrit rendah,
trombosit rendah, ureum tinggi, kalium tinggi, dan kadar gula darah sewaktu
tinggi. Pada kadar gula darah sewaktu tidak terjadi perubahan dikarenakan tidak
adanya data lab secara rutin.
6.
Memberikan konsultasi sesuai dengan
kondisi pasien, konsultasi yang diberikan tentang pemberian makanan bagi
penderita dibetes mellitus, gagal ginjal, hipertensi dengan memberikan
penjelasan tentang penyakit tersebut.
-
Menyarankan kepada pasien agar dapat
menerapkan pola makan yang benar dan bergizi, serta mengkonsumsi makanan sesuai
dengan kebutuhannya sehari- hari
-
Menyarankan kepada pasien agar
menghindari makanan yang berlemak tinggi, dan makanan yang asin, seperti jeroan
(otak, jantung, paru, jantung), daging kambing ,ayam dengan kulit, santan
kental, ikan asin ikan pindang, udang kering, telur asin, telur pindang,
manisan buah
-
Menyarankan kepada keluarga pasien dalam
mengolah makanan harus memperhatikan cara pengolahannya lebih baik dilakukan
dengan cara, setup, rebus, dan panggang,dan menghindari penggunaan penyedap
yang berlebihan
-
Menyarankan kepada keluarga pasien untuk
menghindari rasa tawar pada saat pengolahan karena pembatasan garam akibat
penyakit hipertensi ,rasa tawar dpat diperbaiki dengan menambah gula merah/
putih, bawang merah/ putih, jahe, kencur, dapat menggunakan garam yang rendah
natrium
-
Menyarankan kepada pasien bukan berarti
pasien sudah sakit pasien tidak boleh menkonsumsi makanan yang enak- enak lagi,
namun masih ada makanan yang bisa pasien konsumsi, seperti sayuran dan
buah-buahan, konsumsi ayam/daging/ikan paling banyak 2 potong perhari, telur
ayam minimal 1 butir/ hari
-
Pasien juga masih bisa mengkonsumsi susu
minimal 200 ml/hari
-
Menyarankan kepada pasien agar dapat
melakukan olahraga secara teratur, dan menerapkan pola hidup sehat dalam
kehidupan sehari- hari
-
Memberikan motivasi kepada pasien bahwa
pasien jangan menyerah dan tetap bersemangat menjalani hidup karena apabila
kita menerapkan pola hidup sehat dan mengatur
makanan sehari- hari insyaallah
semua akan teratasi.
2.
PEMBAHASAN
Pemantauan
makanan terhadap pasien dilakukan untuk melihat zat gizi yang dikonsumsi dan
seberapa besar daya terimanya terhadap diet yang diberikan. Pemantauan
dilakukan dengan cara recall asupan makan 24 jam selama di Rumah sakit,
mengamati perkembangan diet selama studi kasus mendalam dan wawancara dengan
pasien dan keluarga. Asupan zat gizi pasien selama di rumah sakit yang
diperoleh dari hasil pengamatan dan recall makanan yang dikonsumsi selama empat
hari, menunjukkan bahwa asupan makanan pasien tidak mengalami peningkatan
setiap harinya.
-
Asupan makanan
Asupan
makan selama empat hari pengamatan, makanan berasal dari rumah sakit dan dari
luar rumah sakit. Bentuk makanan yaitu makanan lunak. Asupan makan tidak baik
dilihat dari hasil recall. Hal ini dikarenakan pasien yang masih tidak nafsu
makan dilihat selama hari pengamatan. Hal
ini berkaitan dengan teori tandra, 2008 yang menyatakan gejala yang dialami
pasien sering merasa haus. Memang pada mulanya berat badan meningkat, akan tetapi
lama kelamaan otot tidak mendapat cukup
gula untuk tumbuh dan energi, maka jaringan otot dan lemak harus dipecah untuk
memenuhi kebutuhan energi, berat badan menjadi turun, meskipun makannya banyak,
keadaan ini makin diperburuk oleh adanya komplikasi yang timbulnya belakangan.
-
Monitoring biokimia
Pasien
hanya melakukan 3 kali pemeriksaan laboratorium, yaitu pada saat awal masuk
rumah sakit sampai setelah hari pengamatan. Data biokimia menunjukkan bahwa
hemoglobin rendah, hematokrit rendah, trombosit rendah, ureum tinggi, kalium
tinggi, dan kadar gula darah sewaktu tinggi. Pada kadar gula darah sewaktu
tidak terjadi perubahan dikarenakan tidak adanya data lab secara rutin. Hal ini
berkaitan dengan teori arisman, 2004 yang menyatakan bahwa hasil pemeriksaan Data
biokim tersebut biasanya berkaitan dengan jenis penyakit dan diagnosa dokter.
Misalnya seperti pada penderita diabetes mellitus adalah GDP (gula darah
puasa), GDS (gula darah sewaktu), dan gula darah 2 jam PP (Irianton,2012)
-
Monitoring pemeriksaan fisik dan klinis
Pemeriksaan
fisik dilakukan setiap hari pada keadaan umumnya. Pada pemeriksaan fisik pasien
pengamatan Pasien terlihat pucat, sesak nafas, dan nyeri dikaki, dan mual,
sering merasa haus. Hal ini berkaitan dengan teori tandra, 2008 yang menyatakan
Beberapa
keluhan utama dari diabetes menurut adalah banyak kencing, rasa haus, barat
badan turun, rasa seprti flu, mata kabur, luka yang sukar sembuh, rasa baal dan
kesemutan, gusi merah dan bengkak kulit kering dan gatal, mudah kena infeksi,
dan gatal pada kemaluan.
-
Evaluasi keberhasilan konseling
Evaluasi
keberhasilan konseling pada keluarga pasien, bahwa terlihat ibu pasien mampu
menangkap informasi yang diberikan. Selain itu juga ibu pasien telah mengetahui
bagaimana diet yang baik bagi penderita Diabetes Mellitus, Gagal Ginjal dan Hipertensi
kepada pasien. Hal ini berkaitan dengan teori irianton, 2012 yang menyatakan
langkah ketiga dari proses asuhan gizi adalah intervensi gizi yang menyangkut
rencana konseling pasien tentang
pilihan/ solusi yang baik dalam memilih makanan. Intervensi gizi bertujuan
untuk menanggulangi masalah gizi.
BAB
IV
KESIMPULAN
DAN SARAN
A.
Kesimpulan
-
Ny. Y dengan diagnosa gagal ginjal,
diabetes mellitus dan hipertensi berstatus gizi baik.
-
Diet yang diberikan yaitu Diet
Diabetes Mellitus 1900 kkal, Rendah Protein 30 gr, Rendah Garam III
-
Nafsu makan pasien mulai membaik,
dilihat dari adanya peningkatan asupan recall pasien dari hari ke hari.
-
Berat badan tetap dalam keadaan status
gizi baik selama hari pengamatan.
-
Adanya peningkatan dilihat dari fisik
pasien yaitu nyeri dikaki sudah kurang, dan tidak merasa sesak nafas lagi
sehingga terlihat lebih baik dari sebelumnya.
B. Saran
Diharapkan bagi
pasien untuk selalu berpola hidup sehat dengan tetap menjaga pola makannya yang
lebih baik untuk mempertahankan status gizi yang normal dan keadaan yang selalu
sehat.
DAFTAR
PUSTAKA
Supariasa., 2002. Penilaian Status Gizi. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Jakarta.
Sunita., 2010.Penuntun Diet. Gramedia pustaka utama.Jakarta.
Waspadji,S.2007.Pedoman Diet Diabetes
Mellitus.FKUI: Jakarta
Dr. Rubby, Billous.2008.Bimbingan Dokter
pada Diabetes.Jakarta:Dian Rakyat.
Dr. Robert B, Cooper.1996. Segala
Sesuatu yang Anda perlu ketahui tentang Pemeriksaan Medis.Jakarta:PT
Grasindo.
LAMPIRAN
Tabel
Recall Asupan Pasien
6 Maret 2014
|
Waktu
|
Jam
|
Menu
|
Bahan
makanan
|
Berat
|
Energi
|
Protein
|
Lemak
|
HA
|
|
Pagi
|
08.00
|
Nasi Lunak
|
Nasi Putih
|
50
|
89
|
1,1
|
0,1
|
20,3
|
|
Semur ayam
|
ayam
|
50
|
151
|
9,1
|
12,5
|
|
||
|
Kecap
|
3
|
1,4
|
0,2
|
0
|
0,3
|
|||
|
Capcay
|
Wortel
|
20
|
8,4
|
0,2
|
0,1
|
1,9
|
||
|
Bunga kol
|
20
|
5
|
0,5
|
|
1
|
|||
|
|
||||||||
|
Snack
|
10.30
|
Susu
|
Susu
|
30
|
41,4
|
2,1
|
2,4
|
3
|
|
|
||||||||
|
Siang
|
12.30
|
Nasi Lunak
|
Nasi Putih
|
50
|
89
|
1,1
|
0,1
|
20,3
|
|
Ikan sisik
kuah
|
Ikan
|
50
|
55.5
|
12,0
|
2,3
|
|
||
|
Tempe balado
|
tempe
|
50
|
74,5
|
9,2
|
2
|
5,4
|
||
|
minyak
|
5
|
45,1
|
|
5
|
|
|||
|
Bening bayam+ jagung
|
Bayam
|
20
|
7,2
|
0,7
|
0,1
|
1,3
|
||
|
Jagung
|
20
|
28
|
0,9
|
0,3
|
6,6
|
|||
|
Semangka
|
Semangka
|
50
|
14
|
0,3
|
0,1
|
3,5
|
||
|
|
||||||||
|
Snack
|
16.30
|
Bingkang ubi
|
Ubi
|
20
|
24,6
|
0,4
|
0,1
|
5,6
|
|
Susu
|
Susu
|
20
|
41,4
|
|
2,4
|
3
|
||
|
|
||||||||
|
Malam
|
20.00
|
Nasi Lunak
|
Nasi Putih
|
50
|
178
|
1,1
|
0,1
|
20,3
|
|
Ikan asam
manis
|
Ikan
|
50
|
55,5
|
8,5
|
0,5
|
|
||
|
Sup wortel + buncis
|
wortel
|
20
|
8,4
|
0,2
|
|
1,9
|
||
|
Buncis
|
20
|
7
|
0,5
|
|
1,5
|
|||
|
Buah pisang
|
pisang
|
100
|
92
|
1
|
0, 5
|
23,4
|
||
|
Kecukupan
|
952,9
|
10,4
|
8,9
|
47,1
|
||||
|
Kebutuhan
|
1900
|
29,7
|
32,7
|
326,8
|
||||
|
% Kecukupan
|
50%
|
34%
|
28%
|
14%
|
||||
Tabel
Recall Asupan Pasien
7 Maret 2014
|
Waktu
|
Jam
|
Menu
|
Bahan
makanan
|
Berat
|
Energi
|
Protein
|
Lemak
|
HA
|
|
Pagi
|
08.00
|
Nasi Lunak
|
Nasi Putih
|
50
|
89
|
1,1
|
0,1
|
1,6
|
|
Ikan goreng
tepung
|
Ikan
|
50
|
151
|
8,5
|
|
1,3
|
||
|
|
Minyak
|
5
|
1,4
|
|
0,1
|
11,3
|
||
|
Tumis buncis + wortel
|
Buncis
|
20
|
8,4
|
0,4
|
|
12
|
||
|
Wortel
|
20
|
5
|
0,2
|
0,1
|
20,3
|
|||
|
|
||||||||
|
Snack
|
10.30
|
susu
|
susu
|
30
|
41,4
|
1,8
|
2,3
|
|
|
|
||||||||
|
Siang
|
12.30
|
Nasi Lunak
|
Nasi Putih
|
50
|
89
|
1,1
|
0,1
|
20,3
|
|
Telur semur
|
Telur
|
50
|
81
|
0,2
|
2,3
|
|
||
|
Kecap
|
3
|
1,4
|
0,5
|
2
|
6,4
|
|||
|
Sayur asam
|
Kacang panjang
|
20
|
8,8
|
0,1
|
0,1
|
1,2
|
||
|
Labu siam
|
20
|
5,2
|
|
0,1
|
2,8
|
|||
|
Kerupuk
|
Kerupuk
|
20
|
|
0,5
|
0,5
|
23,4
|
||
|
Papaya
|
Papaya
|
100
|
68,4
|
|
|
12
|
||
|
|
||||||||
|
|
||||||||
|
Malam
|
20.00
|
Nasi Lunak
|
Nasi Putih
|
50
|
89
|
1,1
|
0,1
|
20,3
|
|
Ikan acar
kuning
|
Ikan
|
50
|
56,5
|
8,5
|
2,3
|
|
||
|
Tempe goreng
|
Tempe
|
50
|
74,5
|
9,2
|
2
|
6,4
|
||
|
Cah sawi + wortel
|
Sawi
|
30
|
12,6
|
0,7
|
0,1
|
1,2
|
||
|
Wortel
|
30
|
12,6
|
0,4
|
0,1
|
2,8
|
|||
|
Pisang
|
Pisang
|
100
|
92
|
|
0,5
|
23,4
|
||
|
Kecukupan
|
950
|
46,2
|
20,3
|
142,5
|
||||
|
Kebutuhan
|
1900
|
29,7
|
52,7
|
326,8
|
||||
|
% Kecukupan
|
50%
|
159%
|
38%
|
43%
|
||||
Tabel
Recall Asupan Pasien
8 Maret 2014
|
Waktu
|
Jam
|
Menu
|
Bahan
makanan
|
Berat
|
Energi
|
Protein
|
Lemak
|
HA
|
|
Pagi
|
08.00
|
Nasi Lunak
|
Nasi Putih
|
50
|
89
|
1,1
|
0,1
|
20,3
|
|
Ikan goreng
|
Ikan
|
50
|
56,5
|
8,5
|
2,3
|
|
||
|
Minyak
|
5
|
45,1
|
|
5
|
|
|||
|
Sop labu siam + wortel
|
Wortel
|
30
|
12,6
|
0,4
|
0,1
|
2,8
|
||
|
|
Labu siam
|
50
|
13
|
0,3
|
0,1
|
3,4
|
||
|
|
||||||||
|
Snack
|
10.30
|
Roti isi sayur
|
Tepung terigu
|
30
|
109,5
|
2,7
|
0,4
|
23,4
|
|
Susu
|
Susu
|
30
|
41,4
|
2,1
|
2,4
|
3
|
||
|
|
||||||||
|
Siang
|
12.30
|
Nasi Lunak
|
Nasi Putih
|
50
|
89
|
1,1
|
0,1
|
20,3
|
|
Semur ikan
|
Ikan
|
50
|
55.5
|
8,5
|
2,3
|
|
||
|
Kecap
|
3
|
1,4
|
0,2
|
|
0,3
|
|||
|
Tahu goreng
|
tahu
|
50
|
34
|
3,9
|
2,3
|
0,8
|
||
|
minyak
|
5
|
45,1
|
|
5
|
|
|||
|
capcay
|
Wortel
|
30
|
21
|
0,6
|
0,2
|
4,7
|
||
|
Buncis
|
30
|
17,5
|
1,2
|
0,1
|
3,9
|
|||
|
Apel
|
Apel
|
100
|
58
|
0,3
|
0,4
|
14,9
|
||
|
|
||||||||
|
Snack
|
16.30
|
Kue lapis
|
Tepung terigu
|
30
|
109
|
2,7
|
0,4
|
23,2
|
|
|
|
|
|
|
||||
|
Susu
|
Susu
|
30
|
41
|
2,1
|
2,4
|
3
|
||
|
|
||||||||
|
Malam
|
20.00
|
Nasi Lunak
|
Nasi Putih
|
50
|
89
|
1,1
|
0,1
|
20,6
|
|
Ikan pindang
|
Ikan
|
50
|
65,5
|
8,5
|
2,3
|
|
||
|
Cah toge +tahu
|
Tahu
|
50
|
34
|
3,9
|
2,3
|
0,8
|
||
|
Buah pisang
|
pisang
|
100
|
92
|
1
|
0,5
|
23
|
||
|
Kecukupan
|
1112
|
50
|
28,3
|
168
|
||||
|
Kebutuhan
|
1900
|
29,7
|
52,7
|
326,8
|
||||
|
% Kecukupan
|
58 %
|
168 %
|
54%
|
51 %
|
||||






1 komentar:
makasih,, bagus artikelnya,,,,
Posting Komentar