L'Efforts est ma force

Ria Yuni Astika. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

kasus diabetes mellitus, gagal ginjal, hipertensi



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pola hidup masyarakat saat ini harus diakui sangat praktis, terlebih untuk pola makan. Masyarakat dimanjakan dengan berbagai jenis makanan yang sangat cepat untuk disajikan dan bahkan instan. Ditambah dengan jenis makanan dari mancanegara yang menurut generasi sekarang disebut dengan modern. Fakta bahkan menunjukkan sebagian besar masyarakat begitu bangga akan  fast food atau junk food, tanpa mereka ketahui, dari perilaku tersebut, penyakit degeneratif mengintai setiap saat. Penyakit yang masuk dalam kelompok penyakit degeneratif antara lain diabetes mellitus atau kencing manis, stroke, jantung koroner, kardiovaskular, obesitas, penyakit lever, penyakit ginjal dan lainnya (Triawati, 2011).
Diabetes mellitus merupakan salah satu masalah kesehatan yang berdampak pada produktivitas dan dapat menurunkan sumber daya manusia. Penyakit ini tidak hanya berpengaruh secara individu, tetapi sistem kesehatan Negara. Walaupun belum ada survei nasional, sejalan dengan perubahan gaya hidup termasuk pola makan masyarakat Indonesia diperkirakan penderita
diabetes mellitus ini semakin meningkat, terutama pada kelompok umur dewasa keatas
pada seluruh status sosial ekonomi.  Dampak negatif yang ditimbulkannya cukup besar antara lain komplikasi kronik pada penyakit jantung kronis, hipertensi, otak, sistemsaraf, hati, mata dan ginjal.
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi medis kronis dengan tekanan darah diateri meningkat. Peningkatan ini menyebabkan jantung harus bekerja lebih keras dari biasanya untuk mengedarkan darah melalui pembuluh darah. Hipertensi adalah faktor resiko utama untuk penyakit serangan jantung  dan penyakit gagal ginjal kronik. Perubahan pola makan dan gaya hidup dapat memperbaiki kontrol tekanan darah dan mengurangi resiko terkait komplikasi kesehatan. Meskipun demikian, obat seringkali diperlukan pada sebagian orang bila perubahan gaya hidup saja terbukti tidak efektif atau tidak cukup. Gagal Ginjal adalah suatu penyakit dimana fungsi organ ginjal mengalami penurunan hingga akhirnya tidak lagi mampu bekerja sama sekali dalam hal penyaringan pembuangan elektrolit tubuh, menjaga keseimbangan cairan dan zat kimia tubuh seperti sodium dan kalium didalam darah atau produksi urin.



B.     Tujuan
Tujuan Umum                  : Mampu melaksanakan terapi diet pada pasien yang terkena diabetes mellitus tipe II dan gagal ginjal dan hipertensi

Tujuan Khusus
1.         Mampu membaca rekam medik pasien
2.         Mampu menginterprestasikan data subyektif dan obyektif guna mengetahui diagnosa pasien.
3.         Mampu melakukan anamnesis gizi
4.         Mampu melakukan pengukuran antropometri
5.         Mampu menentukan status gizi pasien
6.         Mampu menghitung kebutuhan gizi pasien
7.         Mampu menyusun menu sesuai dengan kebutuhan gizi pasien
8.         Mampu menghitung asupan makan pasien
9.         Mampu memberikan terapi diet pada pasien.
10.     Mampu melakukan penyuluhan atau konsultasi gizi di ruang rawat inap pasien.
11.     Mengevaluasi perkembangan diet, memantau perkembangan antropometri, fisik, klinik dan laboratorium

C.    Manfaat
Bagi pasien dan keluarga, yakni dapat mengetahui tentang penyakit yang diderita oleh pasien dan mengetahui diet yang tepat untuk diberikan.  Selain itu, memberikan motivasi bagi pasien untuk menjalankan dietnya, serta kepada keluarga untuk memberikan dukungan kepada pasien.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Kajian Teoritis terhadap Kasus
1.      Diabetes Mellitus
A.    Pengertian
Diabetes Mellitus (DM) adalah kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang mengalami peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan hormon insulin. Penatalaksanaan diet hendaknya disertai dengan latihan jasmani dan perubahan perilaku tentang makanan. Diabetes mellitus (DM) yang dikenal dengan kencing manis atau kencing gula. Diabetes mellitus adalah keadaan hiperglikemik kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal. Kadar glukosa dalam darah kita biasanya berfluktuasi, artinya naik turun sepanjang hari dan setiap saat, tergantung pada makan yang masuk dan aktivitas fisik seseorang (Mistra, 2005).  Data biokimia dapat diketahui dengan melihat pada hasil laboratorium terbaru yang dibawa maupun menanyakan hasil pemeriksaan laboratorium pasien. Data tersebut biasanya berkaitan dengan jenis penyakit dan diagnosa dokter. Misalnya seperti pada penderita diabetes mellitus adalah GDP (gula darah puasa), GDS (gula darah sewaktu), dan gula darah 2 jam PP (Irianton,2012)

B.     Faktor Penyebab
-          Keturunan
Diabetes mellitus yang disebabkan oleh factor keturunan yaitu apabila ibu, ayah, kakak, atau adik mengidap diabetes, kemungkinan diri juga terkena diabetes lebih besar daripada bila yang menderita diabetes adalah kakek, nenek, atau saudara ibu dan saudara ayah. Sekitar 50% pasien diabetes tipe 2 mempunyai orang tua yang menderita diabetes, dan  lebih sepertiga pasien diabetes mempunyai saudara yang mengidap diabetes. Diabetes tipe 2 lebih banyak terkait dengan faktor riwayat keluarga atau keturunan ketimbang diabetes tipe 1. Pada diabetes tipe 1, kemungkinan orang terkena diabetes hanya 3-5% bila orang tua dan saudaranya adalah pengidap diabetes.   

 
-          Kurang berolahraga
Makin kurang gerak badan, makin mudah seseorang terkena diabetes. Olah raga atau aktivitas fisik membantu kita untuk mengontrol berat badan. Glukosa darah dibakar menjadi energi. Peredaran darah lebih baik. Dan risiko terjadinya diabetes tipe 2 akan turun sampai 50%. Keuntungan lain yang dapat diperoleh dari olah raga adalah bertambahnya massa otot. Biasanya 70-90% glukosa darah diserap oleh otot. Pada orang tua atau yang kurang gerak badan, massa otot berkurang sehingga pemakaian glukosa berkurang dan gula darah pun akan meningkat.
-          Penyakit Lain
Beberapa penyakit tertentu dalam prosesnya cenderung diikuti dengan tingginya kadar glukosa darah di kemudian hari. Akibatnya, pasien juga bisa terkena diabetes. Penyakit-penyakit itu antara lain : hipertensi, gout (pirai) atau radang sendi akibat kadar asam urat dalam darah yang tinggi, penyakit jantung koroner, stroke, infeksi kulit yang berulang.  
-          Usia
Risiko terkena diabetes akan meningkat dengan bertambahnya usia, terutama diatas 40 tahun, serta mereka yang kurang gerak badan, massa ototnya berkurang, dan berat badannya makin bertambah. Namun, belakangan ini, dengan makin banyaknya anak yang mengalami obesitas, angka kejadian diabetes tipe 2 pada anak dan remaja pun meningkat.
-          Stress
Stres yang hebat, seperti halnya infeksi hebat, trauma hebat, operasi besar, atau penyakit berat lainnya, menyebabkan hormone counter-insulin (yang kerjanya berlawanan dengan insulin) lebih aktif. Akibatnya, glukosa darah pun akan meningkat. Diabetes sekunder ini biasanya hilang bila  pengaruh stressnya teratasi. Diabetes ini kadang ditemukan secara kebetulan pada waktu si pasien memeriksakan glukosa darahnya.


C.    Klasifikasi
Menurut Maulana (2009), diabetes mellitus terdiri dari dua jenis, yaitu diabetes mellitus yang tergantung pada insulin atau diabetes Tipe I, dan diabetes mellitus yang tidak tergantung pada insulin atau Diabetes Tipe II.
-          Diabetes mellitus Tipe I
Diabetes mellitus tipe 1 dicirikan dengan hilangnya sel penghasil insulin pada pulau-pulau langerhans pankreas sehingga terjadi kekurangan insulin pada tubuh. Diabetes tipe ini dapat diderita oleh anak-anak maupun orang dewasa. Sampai saat ini, diabetes tipe 1 tidak dapat dicegah. Diet dan olah raga tidak bisa menyembuhkan atau pun mencegah diabetes tipe 1. Kebanyakan penderita diabetes tipe 1 memiliki kesehatan dan berat badan yang baik saat penyakit ini dideritanya. Saat ini, diabetes tipe 1 hanya dapat diobati dengan menggunakan insulin, dengan pengawasan yang teliti terhadap tingkat glukosa darah melalui alat monitor pengujian darah. Pengobatan dasar diabetes tipe 1, bahkan untuk tahap paling awal sekalipun, adalah penggantian insulin. Tanpa insulin, ketosis dan  diabetik ketoakidosis  bisa menyebabkan koma bahkan bisa mengakibatkan kematian. Penekanan juga diberikan pada penyesuaian gaya hidup (diet dan olah raga).

-          Diabetes Mellitus Tipe II
Diabetes mellitus tipe 2 terjadi karena kombinasi dari kecacatan dalam produksi insulin dan resistensi terhadap insulin atau berkurangnya sensitifitas terhadap insulin (adanya defekasi respon jaringan terhadap insulin) yang melibatkan reseptor insulin di membran sel. Pada tahap awal abnormalitas yang paling utama adalah  berkurangnya sensitivitas terhadap insulin, yang ditandai dengan meningkatnya kadar insulin di dalam darah. Pada tahap ini, hiperglikemia dapat diatasi dengan berbagai cara dan obat anti diabetes yang dapat meningkatkan sensitifitas terhadap insulin atau mengurangi produksi glukosa dari hepar, namun semakin parah penyakit, sekresi insulin pun semakin berkurang, dan terapi dengan insulin kadang dibutuhkan. Diabetes tipe kedua ini disebabkan oleh kurang sensitifnya jaringan tubuh terhadap insulin. Pankreas tetap menghasilkan insulin, kadang kadarnya lebih tinggi dari normal. Tetapi tubuh membentuk kekebalan terhadap efeknya, sehingga terjadi kekurangan insulin relatif. Gejala pada tipe kedua ini terjadi secara perlahan-lahan. Dengan pola hidup sehat, yaitu mengkonsumsi makanan bergizi seimbang dan olah raga secara teratur biasanya penderita berangsur pulih. Penderita juga harus dapat mempertahankan berat badan yang normal. Namun, bagi penderita stadium terakhir, kemungkinan akan diberikan suntikan insulin.   

D.    Gejala Diabetes Mellitus
Beberapa keluhan utama dari diabetes menurut Tandra (2008) adalah banyak kencing, rasa haus, barat badan turun, rasa seprti flu, mata kabur, luka yang sukar sembuh, rasa baal dan kesemutan, gusi merah dan bengkak kulit kering dan gatal, mudah kena infeksi, dan gatal pada kemaluan.

-          Banyak kencing
Ginjal tidak dapat menyerap kembali gula yang berlebihan di dalam darah, gula ini akan menarik air keluar dari jaringan, sehingga selain kencing menjadi sering dan banyak, juga akan merasa dehidrasi atau kekurangan cairan.

-          Rasa Haus
Untuk mengatasi dehidrasi, rasa haus timbul dan akan banyak minum dan terus minum. Kesalahan yang sering didapatkan adalah untuk mengatasi rasa haus, mencari  softdrink  yang manis dan segar, akibatnya gula darah semakin naik dan hal ini dapat menimbulkan komplikasi akut yang membahayakan.

-          Berat Badan Turun 
Sebagai kompensasi dari pada dehidrasi dan harus banyak minum, mungkin mulai banyak makan. Memang pada mulanya berat badan meningkat, akan tetapi lama kelamaan otot tidak mendapat  cukup gula untuk tumbuh dan energi, maka jaringan otot dan lemak harus dipecah untuk memenuhi kebutuhan energi, berat badan menjadi turun, meskipun makannya banyak, keadaan ini makin diperburuk oleh adanya komplikasi yang timbulnya belakangan.

-          Rasa Seperti Flu dan Lemah 
Keluhan diabetes dapat menyerupai sakit flu, rasa capek, lemah,dan nafsu makan menurun. Pada diabetes, gula bukan lagi sumber energi, karena glukosa tidak dapat diangkut ke dalam sel untuk menjadi energi.

-          Mata Kabur
Gula darah yang tinggi akan menarik keluar cairan dari dalam lensa mata, sehingga lensa menjadi tipis, mata mengalami kesulitan untuk memfokus dan penglihatan jadi kabur. Apabila bisa mengontrol glukosa darah dengan baik, penglihatan jadi membaik karena lensa kembali normal. Orang diabetes sering berganti-ganti ukuran kacamata, karena gula yang naik turun tidak terkontrol dengan baik. 

-           Luka Yang Sukar Sembuh
Penyebab luka yang sukar sembuh adalah : pertama akibat dari infeksi yang hebat, kuman atau jamur mudah tumbuh pada kondisi gula darah yang tinggi; yang kedua adalah karena kerusakan dinding pembuluh darah, aliran darah yang tidak lancar pada kapiler (pembuluh darah kecil) menghambat penyembuhan luka; dan yang ketiga adalah kerusakan syaraf, luka yang tidak terasa menyebabkan penderita diabetes tidak menaruh perhatian pada luka dan membiarkannya semakin membusuk.

-          Rasa kesemutan
Kerusakan syaraf disebabkan oleh glukosa yang tinggi merusak dinding pembuluh darah, yang akan menggangu nutrisi pada syaraf. Karena yang rusak adalah saraf sensoris, keluhan paling sering adalah rasa semutan atau tidak terasa, terutama pada tangan dan kaki. Selanjutnya bisa timbul rasa nyeri pada anggota tubuh, betis, kaki, tangan, dan lengan, bahkan bisa terasa seperti terbakar.  
-          Kulit Kering dan Gatal
Kulit terasa kering, sering gatal dan infeksi. Keluhan ini biasanya menjadi penyebab pasien datang memeriksakan diri ke dokter, lalu pada pemeriksaan dokter kulit ditemukan adanya diabetes. 

-          Mudah Kena Infeksi 
Leukosit (sel darah merah) yang biasanya dipakai untuk melawan infeksi, tidak dapat berfungsi dengan baik paeda keadaan gula darah yang tinggi. Diabetes membuat lebih mudah terkena infeksi.

-          Gatal Pada Kemaluan
Infeksi jamur juga menyukai suasana gula darah yang tinggi. Vagina mudah terkena infeksi jamur, mengeluarkan cairan kental putih kekuningan, serta timbul rasa gatal.

2.      Hipertensi
A.    Pengertian
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi medis kronis dengan tekanan darah di arteri meningkat. Peningkatan ini menyebabkan jantung harus bekerja lebih keras dari biasanya untuk mengedarkan darah melalui pembuluh darah. Tekanan darah melibatkan dua pengukuran, sistolik dan diastolik, tergantung apakah otot jantung berkontraksi (sistolik) atau berelaksasi di antara denyut (diastolik). Tekanan darah normal pada saat istirahat adalah dalam kisaran sistolik (bacaan atas) 100–140 mmHg dan diastolik (bacaan bawah) 60–90 mmHg. Tekanan darah tinggi terjadi bila terus-menerus berada pada 140/90 mmHg atau lebih. Hipertensi adalah faktor resiko utama untuk stroke, serangan jantung, gagal jantung dan penyebab penyakit ginjal kronik. Bahkan peningkatan sedang tekanan darah arteri terkait dengan harapan hidup yang lebih pendek.


B.     Faktor Penyebab
a.      Faktor keturunan
Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita hipertensi.

b.      Kebiasaan hidup
Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya hipertensi adalah :
-          Konsumsi garam yang tinggi
-          Kegemukan atau makan berlebihan
-          Stress
-          Merokok
-          Minum alkohol
-          Minum obat-obatan ( ephedrine, prednison, epineprin )
-          Kontrasepsi oral
-          Kortikosteroid

Menurut Rokhaeni (2001), manifestasi klinis beberapa pasien yang menderita hipertensi yaitu :
-          Mengeluh sakit kepala, pusing
-          Lemas, kelelahan
-          Sesak nafas
-          Gelisah
-          Mual, muntah

C.    Klasifikasi
Klasifikasi hipertensi menurut bentuknya ada dua yaitu hipertensi sistolik dan hipertensi diastolik. Pertama yaitu hipertensi sistolik adalah jantung berdenyut terlalu kuat sehingga dapat meningkatkan angka sistolik. Tekanan sistolik berkaitan dengan tingginya tekanan pada arteri bila jantung berkontraksi (denyut jantung). Ini adalah tekanan maksimum dalam arteri pada suatu saat dan tercermin dalam hasil pembacaan tekanan darah sebagai tekanan atas nilainya lebih besar. Kedua yaitu hipertensi diastolik terjadi apabila pembuluh darah kecil menyempit secara tidak normal, sehingga memperbesar tahanan terhadap aliran darah yang melaluinya dan meningkatkan tekanan diastoliknya. Tekanan darah diastolik berkaitan dengan tekanan dalam arteri apabila jantung berada dalam keadaan relaksasi diantara dua denyutan.

                        Jenis-jenis Hipertensi :
a.      Hipertensi ringan: Jika tekanan darah sistolik antara 140 – 159 mmHg dan atau tekanan diastolik antara 90 – 99 mmHg
b.      Hipertensi sedang: Jika tekanan darah sistolik antara 160 – 179 mmHg dan atau tekanan diastolik antara 100 – 109 mmHg
c.       Hipertensi berat: Jika tekanan darah sistolik antara 180 – 209 mmHg dan atau tekanan diastolik antara 110 – 120 mmHg

D.    Jenis Diet dan Indikasi Pemberian
Macam diet dan indikasi pemberian :
-          Diet garam rendah I (200-400 mg Na)
Diet garam rendah I diberikan kepada pasien dengan edema, asites, dan hipertensi berat. Pada pengolahan makanannya tidak ditambahkan garam dapur. Dihindari bahan makanan yang tinggi kadar natriumnya.

-          Diet garam rendah II (600-800 mg Na)
Diet garam rendah II diberikan kepada pasien dengan edema, asites, dan hipertensi tidak terlalu berat. Pemberian makanan sehari sama dengan diet garam rendah I. pada pengolahan makanannya boleh menggunakan ½ sdt garam dapur (2 gr).
-          Diet garam rendah III (1000-1200 mg Na)
Diet garam rendah III diberikan kepada pasien dengan edema dan hipertensi ringan. Pemberian makanan sehari sama dengan diet garam rendah I. Pada pengolahan makanannya boleh menggunakan 1 sdt (4 gr) garam dapur.


3.      Gagal Ginjal
A.    Pengertian
Penyakit Gagal Ginjal adalah suatu penyakit dimana fungsi organ ginjal mengalami penurunan hingga akhirnya tidak lagi mampu bekerja sama sekali dalam hal penyaringan pembuangan elektrolit tubuh, menjaga keseimbangan cairan dan zat kimia tubuh seperti sodium dan kalium didalam darah atau produksi urine. Penyakit gagal ginjal ini dapat menyerang siapa saja yang menderita penyakit serius atau terluka dimana hal itu berdampak langsung pada ginjal itu sendiri. Penyakit gagal ginjal lebih sering dialami mereka yang berusia dewasa, terlebih pada kaum lanjut usia. Terjadinya gagal ginjal disebabkan oleh beberapa penyakit serius yang didedrita oleh tubuh yang mana secara perlahan-lahan berdampak pada kerusakan organ ginjal. 
Adapun tanda dan gejala terjadinya gagal ginjal yang dialami penderita secara akut antara lain bengkak mata, kaki, nyeri pinggang hebat, kencing sakit, demam, sering kencing. Sedangkan tanda dan gejala yang mungkin timbul oleh adanya gagal ginjal kronik antara lain adalah lemas, tidak ada tenaga, nafsu makan, mual, muntah, bengkak, kencing berkurang, gatal, sesak napas, anemia. Kelainan urin yaitu protein, Eritrosit, Leukosit. Kelainan hasil pemeriksaan Laboratorium lain yaitu kreatinin darah naik, hemoglobin turun. Penanganan serta obat untuk gagal ginjal tergantung dari penyebab terjadinya kegagalan fungsi ginjal itu sendiri. Pada intinya, Tujuan pengobatan adalah untuk mengendalikan gejala, meminimalkan komplikasi dan memperlambat perkembangan penyakit. Dalam beberapa kasus serius, Pasien akan disarankan atau diberikan tindakan pencucian darah Haemodialisa (dialysis). Kemungkinan lainnya adalah dengan tindakan pencangkokan ginjal atau transplantasi ginjal





B.     Faktor Penyebab
Penyebab dari gagal ginjal akut adalah hipoperfusi pada bagian prerenal; kerusakan glomerular, kerusukan tubular, dan kenaikan vascular pada bagian renal; tumor primer, tumor sekunder, bekuan darah, obstuksi kandung kemih, dan infestasi (cacing) pada bagian postrenal.  

2.2      Pengkajian Gizi/NCP
2.2.1        Pengertian Pelayanan Gizi Rawat Inap
Pelayanan gizi rawat inap merupakan pelayanan gizi yang dimulai dari proses pengkajian gizi, diagnosis gizi, intervensi gizi meliputi perencanaan, penyediaan makanan, penyuluhan/edukasi, dan konseling gizi, serta monitoring dan evaluasi gizi. Tujuannya memberikan pelayanan gizi kepada pasien rawat inap agar memperoleh asupan makanan yang sesuai kondisi kesehatannya dalam upaya mempercepat proses penyembuhan, mempertahankan dan meningkatkan status gizi (Depkes, 2013).
2.2.2        Mekanisme Kegiatan Pelayanan Gizi Rawat Inap
Mekanisme pelayanan gizi rawat inap adalah sebagai berikut:
A.    Skrining gizi
Tahapan pelayanan gizi rawat inap diawali dengan skrining/penapisan gizi oleh perawat ruangan dan penetapan order diet awal (preskripsi diet awal) oleh dokter. Skrining gizi bertujuan untuk mengidentifikasi pasien/klien yang berisiko, tidak berisiko malnutrisi atau kondisi khusus. Kondisi khusus yang dimaksud adalah pasien dengan kelainan metabolik; hemodialisis; anak; geriatrik; kanker dengan kemoterapi/radiasi; luka bakar ; pasien dengan imunitas menurun; sakit kritis dan sebagainya. Pasien sakit kritis atau kasus sulit yang berisiko gangguan gizi berat akan lebih baik bila ditangani secara tim. Bila rumah sakit mempunyai Tim Asuhan Gizi/ Nutrition Suport Tim (NST)/Tim Terapi Gizi (TTG)/Tim Dukungan Gizi/Panitia Asuhan Gizi, maka berdasarkan pertimbangan DPJP pasien tersebut dirujuk kepada tim (Depkes, 2013).
B.     Proses Asuhan Gizi Terstandar
Proses Asuhan gizi Terstandar dilakukan pada pasien yang berisiko kurang gizi, sudah mengalami kurang gizi dan atau kondisi khusus dengan penyakit tertentu, adapun langkah-langkah PAGT antara lain yaitu (Depkes, 2013) :


1.      Assesment/Pengkajian gizi
Assesmen gizi dikelompokkan dalam 5 kategori yaitu 1) Anamnesis riwayat gizi; 2) Data Biokimia, tes medis dan prosedur (termasuk data laboratorium); 3) Pengukuran antropometri; 4) Pemeriksaan fisik klinis; 5) Riwayat personal.
-          Anamnesis riwayat gizi
Anamnesis riwayat gizi adalah data meliputi asupan makanan termasuk komposisi, pola makan, diet saat ini dan data lain yang terkait. Selain itu diperlukan data kepedulian pasien terhadap gizi dan kesehatan, aktivitas fisik dan olahraga dan ketersediaan makanan di lingkungan klien.
Gambaran asupan makanan dapat digali melalui anamnesis kualitatif dan kuantitatif. Anamnesis riwayat gizi secara kualitatif dilakukan untuk memperoleh gambaran kebiasaan makan/pola makan sehari berdasarkan frekuensi penggunaan bahan makanan. Anamnesis secara kuantitatif dilakukan untuk mendapatkan gambaran asupan zat gizi sehari melalui ’’recall’ makanan 24 jam dengan alat bantu ’food model’. Kemudian dilakukan analisis zat gizi yang merujuk kepada daftar makanan penukar, atau daftar komposisi zat gizi makanan.
-          Biokimia
Data biokimia meliputi hasil pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan yang berkaitan dengan status gizi, status metabolik dan gambaran fungsi organ yang berpengaruh terhadap timbulnya masalah gizi. Pengambilan kesimpulan dari data laboratorium terkait masalah gizi harus selaras dengan data assesmen gizi lainnya seperti riwayat gizi yang lengkap, termasuk penggunaan suplemen, pemeriksaan fisik dan sebagainya.
Disamping itu proses penyakit, tindakan, pengobatan, prosedur dan status hidrasi (cairan) dapat mempengaruhi perubahan kimiawi darah dan urin, sehingga hal ini perlu menjadi pertimbangan.
-          Antropometri
Antropometri merupakan pengukuran fisik pada individu. Antropometri dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain pengukuran tinggi badan (TB); berat badan (BB). Pada kondisi tinggi badan tidak dapat diukur dapat digunakan Panjang badan, Tinggi Lutut (TL), rentang lengan atau separuh rentang lengan. Pengukuran lain seperti Lingkar Lengan Atas (LiLA), Tebal lipatan kulit (skinfold), Lingkar kepala, Lingkar dada, lingkar pinggang dan lingkar pinggul dapat dilakukan sesuai kebutuhan.
Penilaian status gizi dilakukan dengan membandingkan beberapa ukuran tersebut diatas misalnya Indeks Massa Tubuh (IMT) yaitu ratio BB terhadap TB.
Parameter antropometri yang penting untuk melakukan evaluasi status gizi pada bayi, anak dan remaja adalah Pertumbuhan. Pertumbuhan ini dapat digambarkan melalui pengukuran antropometri seperti berat badan, panjang atau tinggi badan, lingkar kepala dan beberapa pengukuran lainnya. Hasil pengukuran ini kemudian dibandingkan dengan standar.
Pemeriksaan fisik yang paling sederhana untuk melihat status gizi pada pasien rawat inap adalah BB. Pasien sebaiknya ditimbang dengan menggunakan timbangan yang akurat/terkalibrasi dengan baik. Berat badan akurat sebaiknya dibandingkan dengan BB ideal pasien atau BB pasien sebelum sakit. Pengukuran BB sebaiknya mempertimbangkan hal-hal diantaranya kondisi kegemukan dan edema. Kegemukan dapat dideteksi dengan perhitungan IMT. Namun, pada pengukuran ini terkadang terjadi kesalahan yang disebabkan oleh adanya edema.
BB pasien sebaiknya dicatat pada saat pasien masuk dirawat dan dilakukan pengukuran BB secara periodik selama pasien dirawat minimal setiap 7 hari.
-          Pemeriksaan Fisik/Klinis
Pemeriksaan fisik dilakukan untuk mendeteksi adanya kelainan klinis yang berkaitan dengan gangguan gizi atau dapat menimbulkan masalah gizi. Pemeriksaan fisik terkait gizi merupakan kombinasi dari, tanda tanda vital dan antropometri yang dapat dikumpulkan dari catatan medik pasien serta wawancara. Contoh beberapa data pemeriksaan fisik terkait gizi antara lain edema, asites, kondisi gigi geligi, massa otot yang hilang, lemak tubuh yang menumpuk, dll.
-          Riwayat Personal
Data riwayat personal meliputi 4 area yaitu riwayat obat-obatan atau suplemen yang sering dikonsumsi; sosial budaya; riwayat penyakit; data umum pasien.
a.       Riwayat obat-obatan yang digunakan dan suplemen yang dikonsumsi.
b.      Sosial Budaya
Status sosial ekonomi, budaya, kepercayaan/agama, situasi rumah, dukungan pelayanan kesehatan dan sosial serta hubungan sosial.



c.       Riwayat Penyakit
Keluhan utama yang terkait dengan masalah gizi, riwayat penyakit dulu dan sekarang, riwayat pembedahan, penyakit kronik atau resiko komplikasi, riwayat penyakit keluarga, status kesehatan mental/emosi serta kemampuan kognitif seperti pada pasien stroke.
d.      Data umum pasien antara lain umur, pekerjaan, dan tingkat pendidikan.

2.      Diagnosis Gizi
Pada langkah ini dicari pola dan hubungan antar data yang terkumpul dan kemungkinan penyebabnya. Kemudian memilah masalah gizi yang spesifik dan menyatakan masalah gizi secara singkat dan jelas menggunakan terminologi yang ada. Penulisan diagnosa gizi terstruktur dengan konsep PES atau Problem Etiologi dan Signs/ Symptoms. Diagnosis gizi dikelompokkan menjadi tiga domain yaitu :
-          Domain Asupan adalah masalah aktual yang berhubungan dengan asupan energi, zat gizi,cairan, substansi bioaktif dari makanan baik yang melalui oral maupun parenteral dan enteral.
-          Domain Klinis adalah masalah gizi yang berkaitan dengan kondisi medis atau fisik/fungsi organ.
-          Domain Perilaku/lingkungan adalah masalah gizi yang berkaitan dengan pengetahuan, perilaku/kepercayaan, lingkungan fisik dan akses dan keamanan makanan (Depkes, 2013).

3.      Intervensi Gizi
Terdapat dua komponen intervensi gizi yaitu perencanaan intervensi dan implementasi.
a.       Perencanaan Intervensi
Intervensi gizi dibuat merujuk pada diagnosis gizi yang ditegakkan. Tetapkan tujuan dan prioritas intervensi berdasarkan masalah gizinya (Problem), rancang strategi intervensi berdasarkan penyebab masalahnya (Etiologi) atau bila penyebab tidak dapat diintervensi maka strategi intervensi ditujukan untuk mengurangi Gejala/Tanda (Sign & Symptom).
Tentukan pula jadwal dan frekuensi asuhan. Output dari intervensi ini adalah tujuan yang terukur, preskripsi diet dan strategi pelaksanaan (implementasi). Perencanaan intervensi meliputi :
-          Penetapan tujuan intervensi
Penetapan tujuan harus dapat diukur, dicapai dan ditentukan waktunya.

-          Preskripsi diet
Preskripsi diet secara singkat menggambarkan rekomendasi mengenai kebutuhan energi dan zat gizi individual, jenis diet, bentuk makanan, komposisi zat gizi, frekuensi makan.

b.      Perhitungan kebutuhan gizi
Penentuan kebutuhan zat gizi yang diberikan kepada pasien/klien atas dasar diagnosis gizi, kondisi pasien dan jenis penyakitnya.
c.       Jenis Diet
Pada umumnya pasien masuk ke ruang rawat sudah dibuat permintaan makanan berdasarkan pesanan/order diet awal dari dokter jaga/ penanggung jawab pelayanan (DPJP). Dietisien bersama tim atau secara mandiri akan menetapkan jenis diet berdasarkan diagnosis gizi. Bila jenis diet yang ditentukan sesuai dengan diet order maka diet tersebut diteruskan dengan dilengkapi dengan rancangan diet. Bila diet tidak sesuai akan dilakukan usulan perubahan jenis diet dengan mendiskusikannya terlebih dahulu bersama (DPJP).

d.      Modifikasi diet
Modifikasi diet merupakan pengubahan dari makanan biasa (normal). Pengubahan dapat berupa perubahan dalam konsistensi; meningkatkan/menurunan nilai energi; menambah/mengurangi jenis bahan makanan atau zat gizi yang dikonsumsi; membatasi jenis atau kandungan makanan tertentu; menyesuaikan komposisi zat gizi (protein, lemak, KH, cairan dan zat gizi lain); mengubah jumlah ,frekuensi makan dan rute makanan. Makanan di RS umumnya berbentuk makanan biasa, lunak, saring dan cair.



e.       Jadwal Pemberian Diet
Jadwal pemberian diet/makanan dituliskan sesuai dengan pola makan.
f.       Jalur makanan
Jalur makanan yang diberikan dapat melalui oral dan enteral atau parenteral
g.      Implementasi Intervensi
Implementasi adalah bagian kegiatan intervensi gizi dimana dietisien melaksanakan dan mengkomunikasikan rencana asuhan kepada pasien dan tenaga kesehatan atau tenaga lain yang terkait. Suatu intervensi gizi harus menggambarkan dengan jelas : “ apa, dimana, kapan, dan bagaimana” intervensi itu dilakukan. Kegiatan ini juga termasuk pengumpulan data kembali, dimana data tersebut dapat menunjukkan respons pasien dan perlu atau tidaknya modifikasi intervensi gizi. Untuk kepentingan dokumentasi dan persepsi yang sama, intervensi dikelompokkan menjadi 4 domain yaitu pemberian makanan atau zat gizi; edukasi gizi, konseling gizi dan koordinasi pelayanan gizi. Setiap kelompok mempunyai terminologinya masing masing (Depkes, 2013).

4.      Monitoring dan Evaluasi Gizi
Kegiatan monitoring dan evaluasi gizi dilakukan untuk mengetahui respon pasien/klien terhadap intervensi dan tingkat keberhasilannya. Tiga langkah kegiatan monitoring dan evaluasi gizi, yaitu :
1.      Monitor perkembangan yaitu kegiatan mengamati perkembangan kondisi pasien/klien yang bertujuan untuk melihat hasil yang terjadi sesuai yang diharapkan oleh klien maupun tim. Kegiatan yang berkaitan dengan monitor perkembangan antara lain :
-          Mengecek pemahaman dan ketaatan diet pasien/klien
-          Mengecek asupan makan pasien/klien
-          Menentukan apakah intervensi dilaksanakan sesuai dengan rencana/preskripsi Diet.
-          Menentukan apakah status gizi pasien/klien tetap atau berubah
-          Mengidentifikasi hasil lain baik yang positif maupun negatif
-          Mengumpulkan informasi yang menunjukkan alasan tidak adanya perkembangan dari kondisi pasien/klien.
2.      Mengukur hasil. Kegiatan ini adalah mengukur perkembangan/perubahan yang terjadi sebagai respon terhadap intervensi gizi. Parameter yang harus diukur berdasarkan tanda dan gejala dari diagnosis gizi.
3.      Evaluasi hasil
Berdasarkan ketiga tahapan kegiatan di atas akan didapatkan 4 jenis hasil, yaitu :
-          Dampak perilaku dan lingkungan terkait gizi yaitu tingkat pemahaman, perilaku, akses, dan kemampuan yang mungkin mempunyai pengaruh pada asupan makanan dan zat gizi.
-          Dampak asupan makanan dan zat gizi merupakan asupan makanan dan atau zat gizi dari berbagai sumber, misalnya makanan, minuman, suplemen, dan melalui rute enteral maupun parenteral.

2.3      Teknik Komunikasi dan Konseling Gizi
A.    Pengertian Komunikasi
Komunikasi adalah "suatu proses dalam mana seseorang atau beberapa orang, kelompok, organisasi, dan masyarakat menciptakan, dan menggunakan informasi agar terhubung dengan lingkungan dan orang lain". Pada umumnya, komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum, menggelengkan kepala, mengangkat bahu. Cara seperti ini disebut komunikasi dengan bahasa nonverbal.








B.     Komponen Komunikasi
Komponen komunikasi adalah hal-hal yang harus ada agar komunikasi bisa berlangsung dengan baik. Menurut Laswell komponen-komponen komunikasi adalah:
·         Pengirim atau komunikator (sender) adalah pihak yang mengirimkan pesan kepada pihak lain.
·         Pesan (message) adalah isi atau maksud yang akan disampaikan oleh satu pihak kepada pihak lain.
·         Saluran (channel) adalah media dimana pesan disampaikan kepada komunikan. dalam komunikasi antar-pribadi (tatap muka) saluran dapat berupa udara yang mengalirkan getaran nada/suara.
·         Penerima atau komunikate (receiver) adalah pihak yang menerima pesan dari pihak lain
·         Umpan balik (feedback) adalah tanggapan dari penerimaan pesan atas isi pesan yang disampaikannya.
·         Aturan yang disepakati para pelaku komunikasi tentang bagaimana komunikasi itu akan dijalankan ("Protokol").











C.    Faktor-faktor yang mempengaruhi Komunikasi
Faktor- factor yang mempengaruhi komunikasi diantaranya :

-          Latar belakang budaya. Interpretasi suatu pesan akan terbentuk dari pola pikir seseorang melalui kebiasaannya, sehingga semakin sama latar belakang budaya antara komunikator dengan komunikan maka komunikasi semakin efektif.

-          Ikatan kelompok atau group Nilai-nilai yang dianut oleh suatu kelompok sangat mempengaruhi cara mengamati pesan.

-          Harapan Harapan mempengaruhi penerimaan pesan sehingga dapat menerima pesan sesuai dengan yang diharapkan.

-          Pendidikan Semakin tinggi pendidikan akan semakin kompleks sudut pandang dalam menyikapi isi pesan yang disampaikan.

-          Situasi Perilaku manusia dipengaruhi oleh lingkungan/situasi.


D.    Pengertian Konseling Gizi
Konseling Gizi adalah serangkaian kegiatan sebagai proses komunikasi dua arah antara Konselor dan Klien/Pasien untuk menanamkan dan meningkatkan pengertian, sikap dan perillaku sehingga membantu klien/pasien mengenali dan mengatasi masalah gizi yang sedang di hadapi.
E.     Tujuan dan Manfaat Konseling Gizi
Tujuan umum dari konsultasi gizi yaitu untuk  meningkatkan pengetahuan, kesadaran, kemampuan masyarakat untuk hidup sehat dan berperan serta dalam upaya kesehatan dengan mengkonsumsi makanan yang sehat. Adapula tujuan khusus menurut (Yuliana, 2005) yaitu meningkatkan keadaan gizi masyarakat untuk mencapai gizi seimbang dengan menurunkan jumlah penduduk yang mengalami gizi kurang dan gizi lebih dan meningkatkan penganekaragaman dalam penyelenggaraan makanan dalam upaya peningkatan status gizi. Sedangkan manfaat dari konsultasi gizi yaitu sebagai pemberian bantuan seseorang kepada orang lain dalam membuat suatu keputusan atau memecahkan suatu masalah melalui pemahaman terhadap fakta-fakta, harapan, dan kebutuhan, dan prasaan-prasaan. Sasaran program konsultasi gizi yang biasa dilakukan di posyandu adalah sasaran kelompok yang rentan gizi di usia produktif yaitu balita. Bayi, ibu hamil, anak usia sekolah, dan lansia.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
1.      HASIL
A.    Gambaran Umum Pasien
Nama                                       : Ny. R
Usia                                         : 34 Tahun
Jenis Kelamin                          : Perempuan
Status                                      : Menikah
Pekerjaaan                               : Swasta
Berat Badan                            : 56 kg
Tinggi Badan                          : 155 cm
Ruang                                      : Mamplam 2
Tanggal Masuk Rumah Sakit  : 7 Maret 2014
Diagnosa Medis                      : Diabetes Mellitus tipe II + Gagal Ginjal + Hipertensi

B.     Proses Asuhan Gizi Terstandar
I.     ASSESMENT ATAU PENGKAJIAN DATA
a)      Riwayat Gizi
1.      Asupan Makanan
-          Pola makan/ snack : Pasien makan 3x sehari dengan porsi sedang kebiasaan ngemil pasien 2x sehari.
-          Jenis Makanan dan Kesukaan Makanan:Pasien menyukai nasi, ikan tongkol, tempe, dan jenis sayuran seperti wortel dan kentang, makanan gorengan, makanan berlemak.Pasien tidak menyukai semur ayam dan makanan yang pedas.
-           







b)     Hasil recall
Tanggal 6 Maret 2014
Asupan
Kebutuhan
% Asupan
Energi : 952,9 kkal
Energi: 1900  kkal
   50%
Protein :  10,4 gr
Protein : 29,7 gr
   34%
Lemak :  8,9 gr
Lemak  : 32,7
   28%
KH      :  47,1 gr
KH       : 326,8
   14%

Tanggal 7 Maret 2014
Asupan
Kebutuhan
% Asupan
Energi : 950 kkal
Energi: 1900  kkal
   50%
Protein :  46,2 gr
Protein : 29,7 gr
   159%
Lemak :  20,3 gr
Lemak  : 32,7
   38%
KH      :  142,5 gr
KH       : 326,8
   43%

Tanggal 8 Maret 2014
Asupan
Kebutuhan
% Asupan
Energi : 1112 kkal
Energi: 1900  kkal
   58%
Protein :  50 gr
Protein : 29,7 gr
   168%
Lemak :  28,3 gr
Lemak  : 32,7
   54%
KH      :  168 gr
KH       : 326,8
   51%










c)      Data Biokimia

Hasil lab
Tanggal Pemeriksaan

Nilai Normal

Keterangan
7/3/2014
8/4/2014
9/3/2014
HB
9,4
11,4
9,4
12,0–14,0 gr/dl
Rendah
Hematokrit
28
32
29
40-48 %
Rendah
Leukosit
-
7,5
7,5
5 – 10 ribu/ml
Normal
Trombosit
-
128
128
150-400 ribu/ml
Rendah
ureum darah
106
-
 -
10-50 mg/dl
Tinggi
Kalium
5,9
-
-
3,5-5 mmol/l
Tinggi
GDS
258
-
-
< 145 mg/dl
Tinggi

d)     Data Antropometri

Tinggi Badan    = 155 cm
Berat Badan     = 56 kg
IMT                  =  =   =  23,3  ( Gizi baik )

e)      Fisik dan Klinis

Pemeriksaan fisik
Hasil
Kesehatan gigi dan mulut

Gigi pasien masih lengkap, pasien tidak mengalami kesulitan mengunyah dan tidak mengalami kesulitan menelan.
Penampilan fisik secara umum
Pasien terlihat pucat, sesak nafas, dan nyeri dikaki, dan mual, sering merasa haus.





Klinis
Hasil lab
Tanggal Pemeriksaan
Nilai Normal
Keterangan
7/3/2014
8/3/2014
9/3/2014
10/3/2014
TD
180/100
 160/90
 130/80
160/90
120/80 mmHg
Tinggi
Pernafasan
24
20
20
20
20-24 x/menit
Normal
Nadi
96
80
96
80
60-100 x/menit
Normal
Suhu
36,8
36,8
36,5
36,8
36-37 C
Normal












f)       Riwayat personal
Riwayat Personal
Pasien tinggal bersama suami dan ke tiga anaknya.
Keluhan Utama
Pasien tidak nafsu makan sejak ± seminggu yang lalu.
Pasien merasa sesak nafas dan nyeri dikaki.
Riwayat penyakit
Riwayat penyakit dahulu    :- Diabetes Mellitus ≤ 17 tahun lalu          .                                                 Kadar Gula Darah  tertinggi 600
                                                  mg/dl
                                                - Hipertensi sejak 6 bulan lalu
Riwayat penyakit sekarang :- Diabetes Mellitus
                                                -Hipertensi
                                                -Gagal Ginjal
Riwayat penyakit keluarga
Tidak ada riwayat penyakit keluarga
Sosial budaya
Suku       : Aceh
Tinggal   : ulhe kareng
Agama   : Islam










II.  DIAGNOSA GIZI
Domain Asupan

Problem
Etiologi
Sypthom
NI 2.1 asupan oral tidak adekuat

Berkaitan dengan penurunan nafsu makan
Ditandai dengan hasil recall energi :52,8%, lemak :36%, karbohidrat : 36%

Domain Klinis
Problem
Etiologi
Sypthom
NC 2.2 Perubahan Nilai lab terkait gizi

-       Berkaitan dengan perubahan fungsi endokrin

-       Berkaitan dengan menurunnya   fungsi ginjal

-       Berkaitan dengan gangguan produksi hormone eritropoeitin.
-       Ditandai dengan kadar gula darah sewaktu 258 mg/dl

-       Ditandai dengan ureum 106 mg/dl

-       Ditandai dengan hemoglobin dalam darah 9,4 gr/dl


Domain Perilaku
Problem
Etiologi
Sypthom
NB.1.3 kekeliruan Pola makan
Berkaitan dengan kurangnya pengetahuan pasien mengenai zat gizi dalam makanan
Pasien sering mengkonsumsi makanan yang bersantan dan gorengan








III.    INTERVENSI GIZI
A.    Rencana
1.      Tujuan Diet
-          Mempertahankan berat badan agar tetap normal
-          Memberikan makanan secukupnya tanpa memberatkan kerja ginjal
-          Menurunkan kadar glukosa darah agar berada dalam keadaan normal
-          Menurunkan tekanan darah agar berada dalam keadaan normal.
-          Memberikan edukasi pemahaman pentingnya diet pasien untuk penyembuhan.

2.      Syarat Diet
-          Energi cukup untuk mempertahankan berat badan normal dengan kebutuhan energi sebanyak 1423 kkal.
-          Kebutuhan protein rendah yaitu 6,2 % dari kebutuhan energi sebanyak 29,7 gr.
-          Kebutuhan lemak sedang yaitu 25 % dari kebutuhan energi sebanyak 52,7 gr.
-          Kebutuhan karbohidrat adalah sisa dari kebutuhan energi total yaitu 68,8%. Pemberian karbohidrat sebanyak 326,8 gr.
-          Penggunaan gula murni dan garam dalam minuman dan makanan dihindari. Diperbolehkan mengkonsumsi gula murni sampai 5% dari kebutuhan energi total. Diperbolehkan mengkonsumsi garam sampai 1000-1200 mg Na (1 sdt /4 gr)

3.      Jenis diet : Diet Diabetes Mellitus 1900 kkal, Rendah Protein 30 gr, Rendah Garam III.
4.      Prinsip diet : Rendah karbohidrat , garam1000-1200 mg Na, dan protein 30 gr.
5.      Bentuk makanan : makanan lunak
6.      Metode Pemberian melalui oral
7.      Frekuensi pemberian : 3 x makanan utama dan 2x makanan  selingan.
                     


8.      Perhitungan kebutuhan gizi

BBI                       =  (TB-100 ) – 10%
                              =  (155-100 ) – 10%
                              = 49,5 kg
BMR                     = 655 + (9,6 x BBI) + ( 1,8 x TB) – (4,7 x U)
                              = 655 + (9,6 x 49,5 ) + ( 1,8 x 155) – (4,7 x 34)
                              = 1249,4

Faktor stress        =  
                                                            = 249,8

Aktivitas                
                                                             =224,892

SDA                      =
                              = 172,41

Energi                   = BMR + Faktor Stres + Aktivitas + SDA
                                                            = 1249,4 + 249,8 + 224,892 + 172,41
                                                            = 1900 KKal









Kebutuhan KH, Lemak, Protein
Protein                   = 0,6 kg/bb = 0,6  49,5 = 29,7
=29,7  4 =  = 0,062  100 = 6,2 %
                              =  =    = 29,7  gr

Karbohidrat           =  =  = 326,8 gr

Lemak                   =   =       = 52,7 gr

9.      Rencana parameter yang diukur
-          Asupan makanan         : Habis atau tersisa
-          Antropometri              : Berat badan, tinggi badan
-          Fisik                            : wajah, mata, keadaan tubuh
-          Klinis                           : Tekanan Darah, suhu, nadi, pernafasan.
-          Laboratorium              : hemoglobin, hematokrit, trombosit, ureum darah, kalium, kadar gula darah sewaktu

10.  Rencana Konsultasi Gizi
Memberikan konsultasi sesuai dengan kondisi pasien, konsultasi yang diberikan tentang makanan bagi penderita diabetes mellitus, gagal ginjal, dan hipertensi dengan memberikan penjelasan tentang penyakit tersebut.

B.     Tindakan atau Pelaksanaan
1.      Diet dilaksanakan pada saat pasien berada di rumah sakit.
2.      Diet yang diberikan dari rumah sakit pada pasien adalah diet Diet Diabetes Mellitus 1900 kkal, Rendah Protein 30 gr, Rendah Garam III. Metode pemberian secara oral.
3.      Metode pemberian diet adalah 3x makan utama dan 2x makanan selingan.


IV. MONITORING DAN EVALUASI
1.      Asupan makanan hari pertama pengamatan tanggal 8 maret 2014 pasien tidak menghabiskan makanannya dikarenakan tidak nafsu makan , kemudian pada hari ke 2 dan ke 3 dipantau pasien sudah makan lebih banyak dari kemarin Tidak ada perubahan diet pada pasien. Bentuk makanan tetap bentuk makanan lunak , dengan Metode Pemberian melalui oral , Frekuensi pemberian yaitu 3x makanan utama dan 2x selingan. Nafsu makan pasien mulai membaik, dilihat dari adanya peningkatan asupan recall pasien dari hari ke hari.
2.      Antropometri pasien dilihat berat badan pada tanggal 8 maret 2014 ketika masuk rumah sakit yaitu 56 kg, pada tanggal 10 maret 2014 turun menjadi 55 kg. Tinggi badan pasien pada ketiga hari pengamatan tetap terlihat sama yaitu 155 cm. Hal ini terlihat baik karena tidak adanya penurunan berat badan yang drastis selama dirumah sakit.
3.      Fisik pasien pengamatan pada tanggal 7 maret 2014 pasien terlihat pucat, sesak nafas, nyeri dikaki. Pada hari ke 2 tidak ada perubahan pada pasien, terlihat kondisi sama dengan hari kemarin. Pada hari ke 3 pasien mulai membaik, sesak nafas berkurang, nyeri dikaki juga semakin berkurang.
4.      Hasil klinis pasien pada tanggal 7 maret 2014 , tekanan darah pasien 180/100 mmHg tinggi.  Pada tanggal 8 maret 2014 tekanan darah pasien 160/90 mmHg tinggi. Pada tanggal 10 april 2014 tekanan darah tetap sama yaitu 160/90 mmHg.
5.      Dari hasil data biokimia pada tanggal 7 maret 2014 sampai tanggal 9 maret 2014, hemoglobin rendah, hematokrit rendah, trombosit rendah, ureum tinggi, kalium tinggi, dan kadar gula darah sewaktu tinggi. Pada kadar gula darah sewaktu tidak terjadi perubahan dikarenakan tidak adanya data lab secara rutin.
6.      Memberikan konsultasi sesuai dengan kondisi pasien, konsultasi yang diberikan tentang pemberian makanan bagi penderita dibetes mellitus, gagal ginjal, hipertensi dengan memberikan penjelasan tentang penyakit tersebut.
-          Menyarankan kepada pasien agar dapat menerapkan pola makan yang benar dan bergizi, serta mengkonsumsi makanan sesuai dengan kebutuhannya sehari- hari
-          Menyarankan kepada pasien agar menghindari makanan yang berlemak tinggi, dan makanan yang asin, seperti jeroan (otak, jantung, paru, jantung), daging kambing ,ayam dengan kulit, santan kental, ikan asin ikan pindang, udang kering, telur asin, telur pindang, manisan buah
-          Menyarankan kepada keluarga pasien dalam mengolah makanan harus memperhatikan cara pengolahannya lebih baik dilakukan dengan cara, setup, rebus, dan panggang,dan menghindari penggunaan penyedap yang berlebihan
-          Menyarankan kepada keluarga pasien untuk menghindari rasa tawar pada saat pengolahan karena pembatasan garam akibat penyakit hipertensi ,rasa tawar dpat diperbaiki dengan menambah gula merah/ putih, bawang merah/ putih, jahe, kencur, dapat menggunakan garam yang rendah natrium
-          Menyarankan kepada pasien bukan berarti pasien sudah sakit pasien tidak boleh menkonsumsi makanan yang enak- enak lagi, namun masih ada makanan yang bisa pasien konsumsi, seperti sayuran dan buah-buahan, konsumsi ayam/daging/ikan paling banyak 2 potong perhari, telur ayam  minimal 1 butir/ hari
-          Pasien juga masih bisa mengkonsumsi susu minimal 200 ml/hari
-          Menyarankan kepada pasien agar dapat melakukan olahraga secara teratur, dan menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari- hari
-          Memberikan motivasi kepada pasien bahwa pasien jangan menyerah dan tetap bersemangat menjalani hidup karena apabila kita menerapkan pola hidup sehat dan mengatur  makanan sehari- hari  insyaallah semua akan teratasi.


2.      PEMBAHASAN
Pemantauan makanan terhadap pasien dilakukan untuk melihat zat gizi yang dikonsumsi dan seberapa besar daya terimanya terhadap diet yang diberikan. Pemantauan dilakukan dengan cara recall asupan makan 24 jam selama di Rumah sakit, mengamati perkembangan diet selama studi kasus mendalam dan wawancara dengan pasien dan keluarga. Asupan zat gizi pasien selama di rumah sakit yang diperoleh dari hasil pengamatan dan recall makanan yang dikonsumsi selama empat hari, menunjukkan bahwa asupan makanan pasien tidak mengalami peningkatan setiap harinya.
-          Asupan makanan
Asupan makan selama empat hari pengamatan, makanan berasal dari rumah sakit dan dari luar rumah sakit. Bentuk makanan yaitu makanan lunak. Asupan makan tidak baik dilihat dari hasil recall. Hal ini dikarenakan pasien yang masih tidak nafsu makan dilihat  selama hari pengamatan. Hal ini berkaitan dengan teori tandra, 2008 yang menyatakan gejala yang dialami pasien sering merasa haus. Memang pada mulanya berat badan meningkat, akan tetapi lama kelamaan otot tidak mendapat  cukup gula untuk tumbuh dan energi, maka jaringan otot dan lemak harus dipecah untuk memenuhi kebutuhan energi, berat badan menjadi turun, meskipun makannya banyak, keadaan ini makin diperburuk oleh adanya komplikasi yang timbulnya belakangan.
 
-          Monitoring biokimia
Pasien hanya melakukan 3 kali pemeriksaan laboratorium, yaitu pada saat awal masuk rumah sakit sampai setelah hari pengamatan. Data biokimia menunjukkan bahwa hemoglobin rendah, hematokrit rendah, trombosit rendah, ureum tinggi, kalium tinggi, dan kadar gula darah sewaktu tinggi. Pada kadar gula darah sewaktu tidak terjadi perubahan dikarenakan tidak adanya data lab secara rutin. Hal ini berkaitan dengan teori arisman, 2004 yang menyatakan bahwa hasil pemeriksaan Data biokim tersebut biasanya berkaitan dengan jenis penyakit dan diagnosa dokter. Misalnya seperti pada penderita diabetes mellitus adalah GDP (gula darah puasa), GDS (gula darah sewaktu), dan gula darah 2 jam PP (Irianton,2012)

-          Monitoring pemeriksaan fisik dan klinis
Pemeriksaan fisik dilakukan setiap hari pada keadaan umumnya. Pada pemeriksaan fisik pasien pengamatan Pasien terlihat pucat, sesak nafas, dan nyeri dikaki, dan mual, sering merasa haus. Hal ini berkaitan dengan teori tandra, 2008 yang menyatakan Beberapa keluhan utama dari diabetes menurut adalah banyak kencing, rasa haus, barat badan turun, rasa seprti flu, mata kabur, luka yang sukar sembuh, rasa baal dan kesemutan, gusi merah dan bengkak kulit kering dan gatal, mudah kena infeksi, dan gatal pada kemaluan.

-          Evaluasi keberhasilan konseling
Evaluasi keberhasilan konseling pada keluarga pasien, bahwa terlihat ibu pasien mampu menangkap informasi yang diberikan. Selain itu juga ibu pasien telah mengetahui bagaimana diet yang baik bagi penderita Diabetes Mellitus, Gagal Ginjal dan Hipertensi kepada pasien. Hal ini berkaitan dengan teori irianton, 2012 yang menyatakan langkah ketiga dari proses asuhan gizi adalah intervensi gizi yang menyangkut rencana  konseling pasien tentang pilihan/ solusi yang baik dalam memilih makanan. Intervensi gizi bertujuan untuk menanggulangi masalah gizi.






BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan
-          Ny. Y dengan diagnosa gagal ginjal, diabetes mellitus dan hipertensi berstatus gizi baik.
-          Diet yang diberikan yaitu Diet Diabetes Mellitus 1900 kkal, Rendah Protein 30 gr, Rendah Garam III
-          Nafsu makan pasien mulai membaik, dilihat dari adanya peningkatan asupan recall pasien dari hari ke hari.
-          Berat badan tetap dalam keadaan status gizi baik selama hari pengamatan.
-          Adanya peningkatan dilihat dari fisik pasien yaitu nyeri dikaki sudah kurang, dan tidak merasa sesak nafas lagi sehingga terlihat lebih baik dari sebelumnya.

B.     Saran
Diharapkan bagi pasien untuk selalu berpola hidup sehat dengan tetap menjaga pola makannya yang lebih baik untuk mempertahankan status gizi yang normal dan keadaan yang selalu sehat.




DAFTAR PUSTAKA

Supariasa., 2002. Penilaian Status Gizi. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Sunita., 2010.Penuntun Diet. Gramedia pustaka utama.Jakarta.
Waspadji,S.2007.Pedoman Diet Diabetes Mellitus.FKUI: Jakarta
Dr. Rubby, Billous.2008.Bimbingan Dokter pada Diabetes.Jakarta:Dian Rakyat.
Dr. Robert B, Cooper.1996. Segala Sesuatu yang Anda perlu ketahui tentang Pemeriksaan Medis.Jakarta:PT Grasindo.

LAMPIRAN
Tabel Recall Asupan Pasien
6 Maret 2014
Waktu
Jam
Menu
Bahan makanan
Berat
Energi
Protein
Lemak
HA
Pagi
08.00
Nasi Lunak
Nasi Putih
50
89
1,1
0,1
20,3
Semur ayam
ayam
50
151
9,1
12,5

Kecap
3
1,4
0,2
0
0,3
Capcay
Wortel
20
8,4
0,2
0,1
1,9
Bunga kol
20
5
0,5

1

Snack
10.30
Susu
Susu
30
41,4
2,1
2,4
3

Siang
12.30
Nasi Lunak
Nasi Putih
50
89
1,1
0,1
20,3
Ikan sisik kuah
Ikan
50
55.5
12,0
2,3

Tempe balado
tempe
50
74,5
9,2
2
5,4
minyak
5
45,1

5

Bening bayam+ jagung
Bayam

20
7,2
0,7
0,1
1,3
Jagung
20
28
0,9
0,3
6,6
Semangka
Semangka
50
14
0,3
0,1
3,5

Snack
16.30
Bingkang ubi
Ubi
20
24,6
0,4
0,1
5,6
Susu
Susu
20
41,4

2,4
3

Malam

20.00
Nasi Lunak
Nasi Putih
50
178
1,1
0,1
20,3
Ikan asam manis
Ikan
50
55,5
8,5
0,5

Sup wortel + buncis
wortel
20
8,4
0,2

1,9
Buncis
20
7
0,5

1,5
Buah pisang
 pisang
100
92
1
0, 5
23,4
Kecukupan
952,9
10,4
8,9
47,1
Kebutuhan
1900
29,7
32,7
326,8
% Kecukupan
50%
34%
28%
14%





Tabel Recall Asupan Pasien
7 Maret 2014
Waktu
Jam
Menu
Bahan makanan
Berat
Energi
Protein
Lemak
HA
Pagi
08.00
Nasi Lunak
Nasi Putih
50
89
1,1
0,1
1,6
Ikan goreng tepung
Ikan
50
151
8,5

1,3

Minyak
5
1,4

0,1
11,3
Tumis buncis + wortel
Buncis
20
8,4
0,4

12
Wortel
20
5
0,2
0,1
20,3

Snack
10.30
susu
susu
30
41,4
1,8
2,3


Siang
12.30
Nasi Lunak
Nasi Putih
50
89
1,1
0,1
20,3
Telur semur
Telur
50
81
0,2
2,3

Kecap
3
1,4
0,5
2
6,4
Sayur asam
Kacang panjang
20
8,8
0,1
0,1
1,2
Labu siam
20
5,2

0,1
2,8
Kerupuk
Kerupuk
20

0,5
0,5
23,4
Papaya
Papaya
100
68,4


12


Malam

20.00
Nasi Lunak
Nasi Putih
50
89
1,1
0,1
20,3
Ikan acar kuning
Ikan
50
56,5
8,5
2,3

Tempe goreng
Tempe
50
74,5
9,2
2
6,4
Cah sawi + wortel
 Sawi
30
12,6
0,7
0,1
1,2
Wortel
30
12,6
0,4
0,1
2,8
Pisang
Pisang
100
92

0,5
23,4
Kecukupan

950
46,2
20,3
142,5
Kebutuhan
1900
29,7
52,7
326,8
% Kecukupan
 50%
159%
38%
43%



Tabel Recall Asupan Pasien
8 Maret 2014
Waktu
Jam
Menu
Bahan makanan
Berat
Energi
Protein
Lemak
HA
Pagi
08.00
Nasi Lunak
Nasi Putih
50
89
1,1
0,1
20,3
Ikan goreng
Ikan
50
56,5
8,5
2,3

Minyak
5
45,1

5

Sop labu siam + wortel
Wortel
30
12,6
0,4
0,1
2,8

Labu siam
50
13
0,3
0,1
3,4

Snack
10.30
Roti isi sayur
Tepung terigu
30
109,5
2,7
0,4
23,4
Susu
Susu
30
41,4
2,1
2,4
3

Siang
12.30
Nasi Lunak
Nasi Putih
50
89
1,1
0,1
20,3
Semur ikan
Ikan
50
55.5
8,5
2,3

Kecap
3
1,4
0,2

0,3
Tahu goreng
tahu
50
34
3,9
2,3
0,8
minyak
5
45,1

5

capcay
Wortel

30
21
0,6
0,2
4,7
Buncis
30
17,5
1,2
0,1
3,9
Apel
Apel
100
58
0,3
0,4
14,9

Snack
16.30
Kue lapis
Tepung terigu
30
109
2,7
0,4
23,2





Susu
Susu
30
41
2,1
2,4
3

Malam

20.00
Nasi Lunak
Nasi Putih
50
89
1,1
0,1
20,6
Ikan pindang
Ikan
50
65,5
8,5
2,3

Cah toge +tahu
Tahu
50
34
3,9
2,3
0,8
Buah pisang
 pisang
100
92
1
0,5
23
Kecukupan
1112
50
28,3
168
Kebutuhan
1900
29,7
52,7
326,8
% Kecukupan
58  %
168 %
54%
51 %

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

1 komentar:

Kesehatan dan Olahraga mengatakan...

makasih,, bagus artikelnya,,,,

Posting Komentar